Muhammad Ali adalah petinju ikonik Amerika, yang secara luas dianggap sebagai salah satu atlet terhebat dalam sejarah olahraga. Lahir sebagai Cassius Marcellus Clay Jr. pada tanggal 17 Januari 1942, ia memperoleh ketenaran bukan hanya karena keahliannya yang luar biasa di atas ring tetapi juga karena kepribadiannya yang karismatik dan pernyataannya yang provokatif. Ali memenangkan Kejuaraan Kelas Berat Dunia tiga kali dan dikenal karena kecepatan, kelincahan, dan gaya bertarungnya yang unik yang sering membuat lawannya bingung. Selain tinju, Ali dikenal karena prinsipnya yang kuat dan pendiriannya dalam isu-isu sosial. Dia adalah pendukung vokal hak-hak sipil dan menolak untuk diikutsertakan dalam Perang Vietnam, dengan alasan keyakinan agamanya dan penolakannya terhadap konflik tersebut. Keputusan ini menimbulkan dampak pribadi dan profesional yang signifikan, termasuk larangan bertinju selama beberapa tahun. Namun, keberanian dan ketekunannya membantunya muncul sebagai simbol perlawanan dan teladan bagi banyak orang. Di kemudian hari, Ali mendedikasikan dirinya pada upaya filantropi dan kemanusiaan, sehingga mendapatkan rasa hormat di seluruh dunia. Meski berjuang melawan penyakit Parkinson selama beberapa dekade, ia terus menginspirasi orang lain melalui kepribadian dan karyanya. Muhammad Ali meninggal dunia pada 3 Juni 2016, meninggalkan warisan abadi sebagai juara di dalam dan di luar ring tinju.
Muhammad Ali, lahir Cassius Marcellus Clay Jr. pada 17 Januari 1942, adalah seorang petinju legendaris Amerika. Ia dipuji tidak hanya karena bakatnya di arena tinju tetapi juga karena kepribadiannya yang bersemangat dan kecerdasannya. Ali adalah Juara Dunia Kelas Berat tiga kali, yang dikenal karena refleksnya yang cepat dan teknik bertarung inovatif yang memikat penonton dan mendominasi lawan-lawannya.
Di luar prestasinya di bidang olahraga, Ali adalah tokoh berpengaruh dalam keadilan sosial. Dia mengambil sikap berani menentang Perang Vietnam, menolak dinas militer berdasarkan keyakinannya, yang menyebabkan periode kontroversial dalam hidupnya. Keberaniannya dalam membela keyakinannya menjadikannya panutan dan suara yang kuat untuk hak-hak sipil, bahkan dalam menghadapi kesulitan.
Di tahun-tahun terakhirnya, Ali fokus pada pekerjaan filantropis, mengadvokasi berbagai tujuan meski berjuang melawan penyakit Parkinson. Semangat dan dedikasinya yang tak tergoyahkan untuk memperbaiki dunia telah mengokohkan warisannya tidak hanya sebagai seorang juara atletik tetapi juga sebagai tokoh penting dalam perjuangan kesetaraan dan keadilan secara global.