Woodrow Wilson menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat ke-28 dari tahun 1913 hingga 1921. Ia adalah tokoh kunci dalam pengembangan reformasi progresif, menganjurkan kebijakan yang bertujuan untuk mengurangi kekuatan monopoli dan mendorong keadilan sosial. Kepresidenannya juga menyaksikan pembentukan Sistem Federal Reserve, yang membentuk kerangka keuangan negara yang lebih stabil. Masa jabatan Wilson ditandai dengan pencapaian signifikan dalam kebijakan dalam negeri namun juga ditantang oleh isu-isu internasional, khususnya Perang Dunia I. Pendekatan kebijakan luar negeri Wilson ditandai dengan gagasan diplomasi moral, yang berfokus pada peningkatan demokrasi dan perdamaian di seluruh dunia. Ia awalnya berusaha untuk menjaga Amerika Serikat tetap netral dalam Perang Dunia I, namun akhirnya memimpin negara tersebut ke dalam konflik pada tahun 1917. Kepemimpinannya selama perang dan perannya dalam negosiasi Perjanjian Versailles menunjukkan komitmennya untuk membangun tatanan dunia baru berdasarkan keamanan kolektif dan Liga Bangsa-Bangsa, meskipun aspek warisannya ini mendapat tentangan yang signifikan di dalam negeri. Terlepas dari reformasi progresif dan upayanya untuk memposisikan Amerika Serikat sebagai pemimpin global, kepresidenan Wilson juga dirusak oleh ketegangan rasial dan kebijakan segregasi. Pemerintahannya menerapkan praktik-praktik yang membalikkan beberapa kemajuan bagi warga Amerika keturunan Afrika, sehingga menimbulkan kritik jangka panjang terhadap warisannya. Secara keseluruhan, pengaruh Wilson terhadap politik Amerika dan kebijakan luar negerinya tetap signifikan, seiring ia membentuk arah reformasi dalam negeri dan hubungan internasional.
Woodrow Wilson lahir pada tanggal 28 Desember 1856 di Staunton, Virginia. Dia kemudian menjadi sarjana dan Rektor Universitas Princeton sebelum terjun ke dunia politik. Latar belakang akademisnya memengaruhi pendekatannya terhadap pemerintahan, menekankan prinsip-prinsip moral dan ketelitian intelektual. Wawasan politik Wilson yang tajam memungkinkan dia menavigasi kompleksitas lanskap Amerika pada awal abad ke-20.
Kepresidenannya sangat terkait dengan Era Progresif, yang mewujudkan semangat reformasi dan tanggung jawab pemerintahan. Wilson bertujuan untuk melawan kekuatan perusahaan dan meningkatkan kesejahteraan sosial melalui undang-undang yang menangani isu-isu seperti undang-undang antimonopoli dan hak-hak buruh. Dia berdedikasi untuk mempromosikan pendidikan dan kemajuan pengetahuan, yang berasal dari hari-harinya sebagai rektor universitas.
Cita-cita Wilson meluas ke visinya mengenai hubungan internasional. Ia memimpikan sebuah dunia di mana demokrasi berkembang dan negara-negara bekerja sama secara damai melalui lembaga-lembaga seperti Liga Bangsa-Bangsa. Keyakinannya terhadap penentuan nasib sendiri dan keamanan kolektif merupakan hal yang revolusioner pada masanya, meskipun kebijakan domestik dan pandangannya mengenai ras masih menjadi bahan perdebatan dan kritik. Warisan Wilson sangat kompleks, mencerminkan aspirasi progresivisme dan realitas pada masanya.