Di bawah arcade pasar, di atas pintu yang menuju ke kantor pemerintah kota, saat ini Anda melihat lukisan Bunda Ragusa, Kota Merdeka. Warnanya masih jernih dan segar. Berkelompok di sekitar lutut Ibu Ragusa, dan sama-sama dipeluk oleh lengannya, adalah anak-anak dari semua bangsa; Normandia, Mongol, Afrika, Slavia, dan Levantine. Inilah kesetaraan manusia dan persaudaraan manusia. Di bawah potret itu berdiri bangku marmer tempat tiga hakim duduk setiap hari, untuk mengadili dan mengadili di depan umum setiap kasus yang diajukan ke hadapan mereka. Mereka mewakili Kota Bebas. Mereka wajib menghakimi semua orang dengan keadilan yang sama.

Di bawah arcade pasar, di atas pintu yang menuju ke kantor pemerintah kota, saat ini Anda melihat lukisan Bunda Ragusa, Kota Merdeka. Warnanya masih jernih dan segar. Berkelompok di sekitar lutut Ibu Ragusa, dan sama-sama dipeluk oleh lengannya, adalah anak-anak dari semua bangsa; Normandia, Mongol, Afrika, Slavia, dan Levantine. Inilah kesetaraan manusia dan persaudaraan manusia. Di bawah potret itu berdiri bangku marmer tempat tiga hakim duduk setiap hari, untuk mengadili dan mengadili di depan umum setiap kasus yang diajukan ke hadapan mereka. Mereka mewakili Kota Bebas. Mereka wajib menghakimi semua orang dengan keadilan yang sama.


(Under the arcade of the market place, above the door that led to the offices of the city government, you see today a painting of Mother Ragusa, the Free City. The colors are still clear and fresh. Grouped around Mother Ragusa's knees, and equally enclosed by her arms, are children of all peoples; the Norman, the Mongol, the African, the Slav and the Levantine. Here is human equality and human brotherhood. Below the portrait stands a marble bench on which three judges sat every day, to hear and judge in public any case brought before them. They represented the Free City. They were bound to judge all men with an equal justice.)

📖 Rose Wilder Lane

🌍 Amerika

🎂 December 5, 1886  –  ⚰️ October 30, 1968
(0 Ulasan)

Lukisan Bunda Ragusa, lambang Kota Merdeka, dipajang secara mencolok di atas pintu masuk kantor pemerintahan kota di pasar. Warna-warna cerahnya menggambarkan Bunda Ragusa dikelilingi oleh anak-anak dari berbagai latar belakang, melambangkan persatuan dan kesetaraan. Gambaran tersebut menyampaikan pesan yang kuat tentang persaudaraan manusia di antara berbagai bangsa, seperti Normandia, Mongol, Afrika, Slavia, dan Levantine.

Di bawah representasi ini, bangku marmer berfungsi sebagai platform bagi tiga hakim yang akan mendengarkan kasus yang diajukan kepada mereka setiap hari. Peran mereka sangat penting dalam menegakkan prinsip-prinsip Kota Bebas, karena mereka berdedikasi untuk menegakkan keadilan yang tidak memihak bagi semua warga negara, tanpa memandang asal usul mereka. Komitmen terhadap kesetaraan ini menyoroti cita-cita keadilan dan komunitas yang diwujudkan dalam lukisan tersebut.

Page views
74
Pembaruan
November 07, 2025

Rate the Quote

Tambah Komentar & Ulasan

Ulasan Pengguna

Berdasarkan 0 ulasan
5 Bintang
0
4 Bintang
0
3 Bintang
0
2 Bintang
0
1 Bintang
0
Tambah Komentar & Ulasan
Kami tidak akan pernah membagikan email Anda dengan orang lain.