Tahukah Anda cara menyatukan orang-orang di belakang Anda, Anak Carridin? Cara tercepat? TIDAK? Lepaskan seekor singa - seekor singa gila - di jalanan. Dan ketika rasa panik menguasai masyarakat, setelah rasa takut itu membuat isi perut mereka menjadi air, dengan tenang katakan kepada mereka bahwa Anda akan menghadapinya. Kemudian Anda membunuhnya, dan memerintahkan mereka untuk menggantung bangkainya di tempat yang dapat dilihat semua orang. Sebelum mereka sempat berpikir, Anda memberi perintah lagi, dan perintah itu akan dipatuhi. Dan jika Anda terus memberi perintah, mereka akan terus mematuhinya, karena Andalah yang menyelamatkan mereka, dan siapa yang lebih baik untuk memimpin?

Tahukah Anda cara menyatukan orang-orang di belakang Anda, Anak Carridin? Cara tercepat? TIDAK? Lepaskan seekor singa - seekor singa gila - di jalanan. Dan ketika rasa panik menguasai masyarakat, setelah rasa takut itu membuat isi perut mereka menjadi air, dengan tenang katakan kepada mereka bahwa Anda akan menghadapinya. Kemudian Anda membunuhnya, dan memerintahkan mereka untuk menggantung bangkainya di tempat yang dapat dilihat semua orang. Sebelum mereka sempat berpikir, Anda memberi perintah lagi, dan perintah itu akan dipatuhi. Dan jika Anda terus memberi perintah, mereka akan terus mematuhinya, karena Andalah yang menyelamatkan mereka, dan siapa yang lebih baik untuk memimpin?


(Do you know how to unite people behind you, Child Carridin? The quickest way? No? Loose a lion - a rabid lion - in the streets. And when panic grips the people, once it has turned their bowels to water, calmly tell them you will deal with it. Then you kill it, and order them to hang the carcass up where everyone can see. Before they have time to think, you give another order, and it will be obeyed. And if you continue to give orders, they will continue to obey, for you will be the one who saved them, and who better to lead?)

(0 Ulasan)

Kutipan ini menggambarkan filosofi kekuasaan dan kendali yang kejam. Hal ini menunjukkan bahwa untuk mendapatkan loyalitas yang tak tergoyahkan, terutama dalam keadaan kacau atau tidak stabil, seorang pemimpin mungkin menggunakan rasa takut dan mengambil tindakan tegas. Metafora pelepasan seekor singa gila menggarisbawahi bagaimana tontonan dan kekerasan dapat mendominasi perbedaan pendapat dan menciptakan iklim ketergantungan. Ketenangan pemimpin di tengah kekacauan menunjukkan pentingnya ketenangan, memperkuat persepsi bahwa mereka memegang kendali dan mampu menyelamatkan diri, meskipun melalui cara-cara brutal. Taktik seperti ini menunjukkan adanya oportunisme yang meresahkan—mengubah kekacauan menjadi peluang untuk memperkuat otoritas, bukannya mengatasi permasalahan mendasar. Hal ini menyoroti manipulasi persepsi publik: dengan memposisikan diri sebagai penyelamat, seorang pemimpin dapat mengkooptasi loyalitas menjadi ketaatan. Namun, pendekatan ini menimbulkan pertanyaan moral mengenai etika penggunaan rasa takut dan kekerasan untuk membangun atau mempertahankan kekuasaan, dan apakah kepemimpinan sejati dapat berkembang hanya dengan manipulasi atau memerlukan kepercayaan dan integritas. Secara keseluruhan, kutipan tersebut memaksa kita untuk merefleksikan sifat otoritas—apakah otoritas harus berakar pada kebajikan moral atau kontrol pragmatis—dan para pemimpin garis halus berada di antara kontrol dan tirani. Hal ini merupakan pengingat akan bagaimana retorika dan tindakan yang diperhitungkan membentuk dinamika masyarakat dan kepemimpinan, terutama di masa-masa penuh gejolak. (Naga Terlahir Kembali) - Robert Jordan

Page views
41
Pembaruan
Juli 29, 2025

Rate the Quote

Tambah Komentar & Ulasan

Ulasan Pengguna

Berdasarkan 0 ulasan
5 Bintang
0
4 Bintang
0
3 Bintang
0
2 Bintang
0
1 Bintang
0
Tambah Komentar & Ulasan
Kami tidak akan pernah membagikan email Anda dengan orang lain.