Sungguh, ini adalah dilema yang tidak terpecahkan. Presiden berganti, pria berbeda dengan temperamen dan selera berbeda duduk di Ruang Oval. Namun, strategi intelijen jangka panjang tidak berubah, tidak seperti ini. Namun komentar yang tidak sopan sambil minum segelas wiski dalam percakapan pasca-presiden, atau ungkapan egois dalam memoar, dapat menghancurkan strategi yang sama. Tidak ada hari dimana kita tidak mengkhawatirkan orang-orang yang selamat dari Gedung Putih.

Sungguh, ini adalah dilema yang tidak terpecahkan. Presiden berganti, pria berbeda dengan temperamen dan selera berbeda duduk di Ruang Oval. Namun, strategi intelijen jangka panjang tidak berubah, tidak seperti ini. Namun komentar yang tidak sopan sambil minum segelas wiski dalam percakapan pasca-presiden, atau ungkapan egois dalam memoar, dapat menghancurkan strategi yang sama. Tidak ada hari dimana kita tidak mengkhawatirkan orang-orang yang selamat dari Gedung Putih.


(It's an insoluble dilemma, really. Presidents change, different men with different temperaments and appetites sit in the Oval Office. However, a long-range intelligence strategy doesn't change, not one like this. Yet an offhand remark over a glass of whiskey in a postpresidential conversation, or an egotistical phrase in a memoir, can blow that same strategy right to hell. There isn't a day that we don't worry about those men who have survived the White House.)

πŸ“– Robert Ludlum

🌍 Amerika  |  πŸ‘¨β€πŸ’Ό Novelis

πŸŽ‚ May 25, 1927  β€“  ⚰️ March 12, 2001
(0 Ulasan)

Bagian ini menyoroti tantangan yang ada dalam mempertahankan strategi intelijen yang konsisten dalam menghadapi perubahan kepemimpinan presiden. Setiap presiden mempunyai kepribadian dan prioritas unik yang dapat mengganggu rencana yang telah lama ada. Terlepas dari variabilitas ini, strategi-strategi inti ini harus bertahan, namun tetap rentan terhadap pengungkapan tak terduga dari para mantan pemimpin, yang mungkin tanpa sadar melemahkan strategi-strategi ini dengan komentar-komentar biasa atau narasi-narasi yang mementingkan diri sendiri dalam memoar mereka.

Hal ini menggarisbawahi sifat berbahaya dari intelijen politik, dimana tindakan dan kata-kata presiden masa lalu dapat menimbulkan konsekuensi yang tidak terduga. Kekhawatiran tentang bagaimana mantan penghuni Ruang Oval mungkin secara tidak sengaja membahayakan kepentingan nasional selalu menjadi kekhawatiran bagi mereka yang bertugas menjaga strategi intelijen. Kebutuhan akan stabilitas dalam lanskap yang berfluktuasi ini sangatlah penting, namun mudah untuk dikompromikan.

Page views
372
Pembaruan
Oktober 27, 2025

Rate the Quote

Tambah Komentar & Ulasan

Ulasan Pengguna

Berdasarkan 0 ulasan
5 Bintang
0
4 Bintang
0
3 Bintang
0
2 Bintang
0
1 Bintang
0
Tambah Komentar & Ulasan
Kami tidak akan pernah membagikan email Anda dengan orang lain.