Maka sejak saat itu, dia melihat semua pilihannya dan berkata, Apa yang akan dilakukan orang baik, lalu melakukannya. Namun dia kini telah mempelajari sesuatu yang sangat penting tentang sifat manusia. Jika Anda menghabiskan seluruh hidup Anda dengan berpura-pura menjadi orang baik, maka Anda tidak dapat dibedakan dari orang baik. Kemunafikan yang tiada henti pada akhirnya menjadi kebenaran.
(So from then on, he looked at all his choices and said, What would a good person do, and then did it. But he has now learned something very important about human nature. If you spend your whole life pretending to be good, then you are indistinguishable from a good person. Relentless hypocrisy eventually becomes the truth.)
Dalam "Ender in Exile", karakter mempelajari pentingnya membuat pilihan berdasarkan pedoman moral dengan menanyakan apa yang akan dilakukan orang baik. Pendekatan reflektif ini menuntunnya untuk mengarahkan keputusan hidupnya dengan pertimbangan etis. Seiring berjalannya waktu, ia menemukan kebenaran mendalam tentang perilaku manusia, menyadari bahwa kepura-puraan tanpa henti tidak dapat dibedakan dari kebaikan sejati.
Wahyu ini menyoroti sebuah paradoks dalam sifat manusia: ketika seseorang terus-menerus bertindak seolah-olah mereka baik, batas antara kepura-puraan dan kenyataan menjadi kabur. Konsep kemunafikan dapat berkembang, yang pada akhirnya mengarah pada penerimaan peran seseorang dalam lanskap moral. Pemahaman ini memaksa kita untuk menghadapi implikasi dari tindakan kita dan keaslian di balik tindakan tersebut.