Tujuan akhir kehidupan manusia adalah untuk melampaui budaya dan kepribadian menjadi makhluk murni yang tidak berkondisi. Namun cara untuk melakukan hal ini adalah melalui budaya dan cara hidup kita.

Tujuan akhir kehidupan manusia adalah untuk melampaui budaya dan kepribadian menjadi makhluk murni yang tidak berkondisi. Namun cara untuk melakukan hal ini adalah melalui budaya dan cara hidup kita.


(The ultimate goal of human life is to transcend culture and personality to the unconditioned pure being. But the means to do this is through our culture and way of life.)

(0 Ulasan)

Kutipan mendalam dari How I Became a Hindu: My Discovery of Vedic Dharma karya David Frawley ini menyoroti paradoks yang menjadi pusat pertumbuhan spiritual. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun tujuan akhirnya adalah untuk mencapai keadaan yang melampaui semua identitas yang terkondisi—termasuk budaya dan kepribadian—transendensi ini hanya mungkin terjadi jika pertama-tama terlibat secara mendalam dengan elemen-elemen tersebut. Perjalanan menuju "makhluk murni tanpa syarat" tidak mengabaikan budaya dan kepribadian; sebaliknya, mereka menganggap hal-hal tersebut sebagai sarana transformasi yang diperlukan.

Wawasan ini mengundang refleksi mengenai hubungan yang saling terkait antara individualitas, warisan budaya, dan evolusi spiritual. Budaya sering kali bertindak sebagai lensa yang melaluinya individu memandang dunia. Kepribadian, yang dibentuk oleh faktor genetik dan pengalaman, mewarnai interaksi seseorang dengan kenyataan. Untuk melampaui lapisan-lapisan yang terkondisi ini menyiratkan kebangkitan batin yang mendalam yang mengenali esensi di balik bentuk-bentuk eksternal ini.

Menariknya, Frawley menunjukkan bahwa budaya dan gaya hidup bukanlah hambatan melainkan pintu gerbang; ini memberikan konteks, disiplin, nilai-nilai, dan kerangka simbolis yang dapat memfasilitasi pencarian spiritual. Daripada mengingkari asal muasal seseorang atau melarikan diri dari identitas budaya, kutipan tersebut mendorong kita untuk memanfaatkannya secara sadar demi kebebasan tertinggi. Hal ini sejalan dengan banyak tradisi filosofis dan spiritual di mana kerangka eksternal adalah landasan di mana realisasi batin dibangun.

Pendekatan ini selaras dengan ajaran Veda—menekankan dharma (hidup benar) sebagai batu loncatan menuju moksha (pembebasan). Hal ini mengingatkan kita bahwa transendensi sejati bukanlah penolakan terhadap pengalaman manusia, melainkan pemenuhannya secara sadar dan terbangun. Kutipan ini berbicara kepada siapa pun yang bergulat dengan ketegangan antara individualitas dan universalitas, mengundang sintesis yang menghormati keduanya.

Page views
21
Pembaruan
Juni 08, 2025

Rate the Quote

Tambah Komentar & Ulasan

Ulasan Pengguna

Berdasarkan 0 ulasan
5 Bintang
0
4 Bintang
0
3 Bintang
0
2 Bintang
0
1 Bintang
0
Tambah Komentar & Ulasan
Kami tidak akan pernah membagikan email Anda dengan orang lain.