Saat itu malam yang cerah dan hijau apel di bulan Mei, dan Four Winds Harbour mencerminkan kembali awan barat keemasan di antara pantainya yang gelap gulita. Laut mengerang menakutkan di gundukan pasir, sedih bahkan di musim semi, namun angin yang licik dan riang bertiup menyusuri jalan pelabuhan merah di mana sosok Miss Cornelia yang nyaman dan keibuan sedang berjalan menuju desa Glen St. Mary. Nona Cornelia berhak menjadi Nyonya Marshall Elliott, dan
(was a clear, apple-green evening in May, and Four Winds Harbour was mirroring back the clouds of the golden west between its softly dark shores. The sea moaned eerily on the sand-bar, sorrowful even in spring, but a sly, jovial wind came piping down the red harbour road along which Miss Cornelia's comfortable, matronly figure was making its way towards the village of Glen St. Mary. Miss Cornelia was rightfully Mrs. Marshall Elliott, and)
Dalam suasana Four Winds Harbour yang tenang, malam yang damai dan semarak di bulan Mei terbentang. Pemandangan hijau apel yang subur memantulkan warna keemasan matahari terbenam, menciptakan pemandangan yang indah. Namun, ada perasaan melankolis yang mendasarinya ketika laut mengeluarkan suara sedih di atas gundukan pasir, mengisyaratkan emosi yang lebih dalam yang terkait dengan musim dan alam. Suasana ini kontras dengan semilir angin yang bertiup di sepanjang jalan, melambangkan semangat yang hidup di tengah latar belakang musim semi.
Nona Cornelia, yang akrab disapa Ny. Marshall Elliott, sedang berjalan-jalan melintasi lanskap menawan menuju desa Glen St. Mary. Kehadirannya yang keibuan membawa rasa nyaman dan stabilitas saat dia menavigasi suasana yang indah namun agak mengharukan ini. Citraannya menyampaikan keindahan sekaligus kompleksitas dunia di sekelilingnya, mengajak pembaca menjelajahi nuansa kehidupan yang ada di Rainbow Valley.