Ketika aku meninggalkan Queen's, masa depanku seakan terbentang di hadapanku seperti jalan yang lurus. Saya pikir saya bisa melihat banyak pencapaian di sepanjang itu. Sekarang ada tikungan di dalamnya. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi, tapi saya percaya bahwa yang terbaiklah yang tahu. Ia mempunyai daya tarik tersendiri, yaitu tikungan, Marilla. Saya bertanya-tanya bagaimana jalan di luarnya - apa yang ada dengan keindahan hijau dan cahaya serta bayangan yang lembut dan kotak-kotak - lanskap baru apa - keindahan baru apa - tikungan, bukit, dan lembah apa yang lebih jauh lagi.
(When I left Queen's my future seemed to stretch out before me like a straight road. I thought I could see along it for many a milestone. Now there is a bend in it. I don't know what lies around the bend, but I am going to believe that the best does. It has a fascination of its own, that bend, Marilla. I wonder how the road beyond it goes - what there is of green glory and soft, checkered light and shadows - what new landscapes - what new beauties - what curves and hills and valleys farther on.)
Kutipan tersebut mencerminkan perjalanan protagonis dari kepastian masa lalunya menuju masa depan yang tidak diketahui. Setelah meninggalkan Queen's, dia awalnya membayangkan jalan yang jelas ke depan, penuh dengan tujuan dan pencapaian. Namun, ia kini menghadapi perubahan dalam jalur tersebut, yang melambangkan ketidakpastian dalam arah kehidupan. Terlepas dari ketidakpastiannya, dia menerima hal yang tidak diketahui dengan harapan dan antisipasi.
Rasa ingin tahu tentang masa depan terlihat jelas, saat dia merenungkan apa yang ada di baliknya. Gambaran “kemuliaan hijau” dan “cahaya dan bayangan yang lembut dan kotak-kotak” menunjukkan dunia yang penuh potensi dan keindahan yang menunggu untuk ditemukan. Sang protagonis menunjukkan pandangan positif, bersemangat untuk menjelajahi lanskap, pengalaman, dan tantangan baru yang menantinya, menyoroti keindahan ketidakpastian hidup.