Pria kuat tidak harus dominan terhadap wanita. Dia tidak menandingi kekuatannya melawan wanita yang lemah dengan cinta padanya. Dia mencocokkannya dengan dunia.

Pria kuat tidak harus dominan terhadap wanita. Dia tidak menandingi kekuatannya melawan wanita yang lemah dengan cinta padanya. Dia mencocokkannya dengan dunia.


(A strong man doesn't have to be dominant toward a woman. He doesn't match his strength against a woman weak with love for him. He matches it against the world.)

📖 Marilyn Monroe

🌍 Amerika

🎂 June 1, 1926  –  ⚰️ August 5, 1962
(0 Ulasan)

Kutipan ini menyoroti esensi kekuatan dan maskulinitas sejati, menekankan bahwa kekuatan sejati tidak ditunjukkan melalui dominasi atau kendali terhadap orang lain, khususnya perempuan. Sebaliknya, kekuatan adalah tentang ketahanan, integritas, dan kapasitas untuk menghadapi tantangan eksternal sambil menjaga kerendahan hati dan rasa hormat dalam hubungan pribadi. Ketika seseorang menganggap kekuatannya semata-mata sebagai alat untuk mengendalikan, ia meremehkan rasa kemanusiaannya dan mengkhianati potensinya untuk menjadi pemimpin dan kasih sayang yang sejati. Sebaliknya, ketika ia menyadari bahwa kekuatan yang sebenarnya melibatkan perlindungan dan pemberdayaan orang-orang yang dicintainya—tanpa intimidasi atau penindasan—ia mewujudkan bentuk maskulinitas yang lebih mendalam. Gagasan bahwa tantangan pria bukanlah untuk mengalahkan wanita dengan cinta, namun untuk mengatur dunia menandakan bahwa dengan kekuatan yang besar, terdapat pula tanggung jawab yang besar. Hal ini menunjukkan bahwa kekuatan sejati tidak diuji secara pribadi, namun dalam arena kesulitan eksternal dimana ketahanan, tekad, dan keberanian moral benar-benar berharga. Perspektif ini mendorong pandangan yang seimbang, menganjurkan bahwa kesuksesan sejati seorang pria terletak pada kemampuannya untuk menghadapi kesulitan hidup dengan bermartabat daripada secara dangkal menyatakan dominasi dalam hubungan pribadi. Hal ini mempromosikan gagasan bahwa kekuatan sejati berakar pada rasa hormat, kasih sayang, dan kapasitas untuk melindungi dan mengangkat, bukan mengendalikan atau menundukkan. Pola pikir seperti ini menumbuhkan hubungan yang lebih sehat dan masyarakat yang lebih adil, dimana kekuatan dikagumi karena kedalaman moral dan emosionalnya, bukan karena kemampuannya untuk mengintimidasi atau mendominasi orang lain.

Page views
33
Pembaruan
Desember 25, 2025

Rate the Quote

Tambah Komentar & Ulasan

Ulasan Pengguna

Berdasarkan 0 ulasan
5 Bintang
0
4 Bintang
0
3 Bintang
0
2 Bintang
0
1 Bintang
0
Tambah Komentar & Ulasan
Kami tidak akan pernah membagikan email Anda dengan orang lain.