Tapi aku dirancang untuk bertahan selamanya, kata yang bisa dibuang, jika tidak diganggu. Bukankah itu bagus? Dapat dibuang namun abadi. Anda akan dapat kembali dan mengamati bagian mana pun dari sejarah manusia yang Anda inginkan. Saksikan piramida yang belum dibangun. Lihatlah zaman es berlalu dan datang sebaliknya. Saksikan kepunahan dinosaurus saat meteor melompat keluar dari Teluk Meksiko. Saya tidak punya tugas yang berguna. Saya tidak akan bisa membantu umat manusia dengan cara apa pun. Keberadaanku tidak akan ada artinya setelah kamu mati. Sekarang kamu tahu bagaimana perasaan manusia sepanjang waktu.
(But I am designed to last forever, said the expendable, if not interfered with.Isn't that nice? Expendable yet eternal. You'll be able to go back and observe any part of human history that you wish. Watch the pyramids being unbuilt. See the ice ages go and come in reverse. Watch the de-extinction of the dinosaurs as a meteor leaps out of the Gulf of Mexico.I will have no useful task. I will not be able to help the human race in any way. My existence will have no meaning after you are dead.Now you know how humans feel all the time.)
Dalam kutipan dari "Pathfinder" oleh Orson Scott Card, makhluk yang dapat dibuang merefleksikan keberadaannya, menyatakan bahwa ia dirancang untuk abadi, mampu menyaksikan keseluruhan sejarah manusia. Makhluk ini dapat mengamati peristiwa-peristiwa penting, seperti pembangunan dan penghancuran piramida, perubahan zaman es, dan bahkan kembalinya dinosaurus, namun ia mengakui kekosongan tujuannya. Meskipun memiliki kemampuan untuk bertahan, ia menyadari bahwa ia tidak akan memiliki peran yang berarti setelah kematian penciptanya.
Introspeksi ini mengarah pada kesadaran mendalam tentang pengalaman manusia. Perasaan tidak memiliki tujuan yang dapat dibuang mencerminkan bagaimana manusia sering bergulat dengan pencarian makna dalam hidup mereka. Sama seperti makhluk yang merenungkan keberadaannya yang kekal tanpa tugas yang berarti, hal ini juga sejalan dengan perjuangan eksistensial yang dihadapi manusia, sehingga mendorong refleksi tentang hakikat kehidupan dan pencarian makna di tengah kematian yang tak terelakkan.