Tingkat ketidaknyamanan di masyarakat kita sepertinya sedang meningkat. Secara teori, kami menyerukan keberagaman dan toleransi. Namun dalam kehidupan nyata, kita meningkatkan keresahan kita dan menarik diri ke dalam diri kita sendiri.

Tingkat ketidaknyamanan di masyarakat kita sepertinya sedang meningkat. Secara teori, kami menyerukan keberagaman dan toleransi. Namun dalam kehidupan nyata, kita meningkatkan keresahan kita dan menarik diri ke dalam diri kita sendiri.


(Discomfort levels in our societies are rising, or so it would seem. In theory, we invoke diversity and tolerance. But in real life, we raise our hackles and withdraw into ourselves.)

📖 Tariq Ramadan

 |  👨‍💼 Penulis

(0 Ulasan)

Kutipan tersebut menyoroti keterputusan yang mencolok antara cita-cita dan realitas kohesi masyarakat. Di banyak komunitas, terdapat keyakinan aspirasi terhadap keberagaman dan toleransi; sebuah pengakuan bahwa perbedaan-perbedaan kita harus diterima untuk mendorong masyarakat yang lebih kaya dan bersemangat. Namun, ketegangan muncul dalam interaksi sosial yang sebenarnya dimana ketidaknyamanan, ketakutan, dan prasangka sering kali menghambat penerimaan yang tulus. Ketika dihadapkan pada adat istiadat, kepercayaan, atau penampilan yang asing, individu cenderung secara naluriah mempertahankan batasannya sendiri, terkadang bereaksi secara defensif dibandingkan secara terbuka. Perilaku ini menggarisbawahi tantangan untuk mengubah cita-cita inklusif menjadi praktik sehari-hari. Ketidaknyamanan yang dirasakan adalah hal yang wajar dan manusiawi, berasal dari ketidakpastian dan ketidaktahuan, namun hal ini juga menunjukkan perlunya pendidikan berkelanjutan dan pengembangan empati. Tidaklah cukup hanya dengan mendukung toleransi pada prinsipnya saja—kemajuan masyarakat yang sejati memerlukan pengembangan lingkungan di mana ketidaknyamanan dapat dikelola secara konstruktif dan keberagaman dihargai dengan tulus. Menyadari kesenjangan antara teori dan praktik mungkin meresahkan, namun hal ini juga memberikan peluang untuk berkembang. Masyarakat yang mengakui adanya ketegangan ini dan secara aktif berupaya mengurangi reaksi yang didasari rasa takut, kemungkinan besar akan berkembang menjadi ruang yang benar-benar inklusif. Pada akhirnya, kutipan tersebut mengingatkan kita bahwa toleransi adalah proses yang berkelanjutan, yang menuntut upaya sadar, pemahaman, dan kemauan untuk keluar dari zona nyaman kita untuk menumbuhkan hubungan dan penerimaan yang tulus.

Page views
45
Pembaruan
Desember 25, 2025

Rate the Quote

Tambah Komentar & Ulasan

Ulasan Pengguna

Berdasarkan 0 ulasan
5 Bintang
0
4 Bintang
0
3 Bintang
0
2 Bintang
0
1 Bintang
0
Tambah Komentar & Ulasan
Kami tidak akan pernah membagikan email Anda dengan orang lain.