Jangan pedulikan dia. Dia mengangkat hidungnya terlalu tinggi, dia bisa saja tenggelam dalam hujan badai.
(Don't mind her. She keeps her nose so high in the air, she's liable to drown in a good rainstorm.)
Kutipan ini dengan jelas menggambarkan kebodohan kesombongan dan bahayanya meremehkan orang lain. Ketika seseorang mengambil sikap superioritas—secara metaforis menjaga hidungnya tetap tinggi hingga berisiko tenggelam—mereka sering kali mengabaikan realitas kelemahannya sendiri. Kesombongan seperti itu dapat menjadi penghalang dalam menjalin hubungan antarmanusia yang sejati, sehingga membuat seseorang mengabaikan nilai kerendahan hati. Secara historis dan sosial, kesombongan sering kali menjadi penyebab jatuhnya banyak orang, karena hal ini menumbuhkan rasa puas diri dan terputusnya hubungan dengan masyarakat dan akal sehat. Metafora tenggelam dalam hujan badai menggarisbawahi bahwa bahkan individu yang paling percaya diri atau sombong pun tetap rapuh dan rentan terhadap kekuatan kehidupan yang tidak dapat diprediksi. Gambaran ini mengingatkan kita bahwa kerendahan hati dan perspektif yang membumi sangat penting untuk menghadapi tantangan hidup secara efektif. Hal ini juga menyoroti bahwa kesombongan dapat merusak diri sendiri, karena membutakan individu terhadap keterbatasan mereka atau kebenaran sederhana di sekitar mereka. Selain itu, kutipan ini memberikan peringatan tentang kesombongan dan kesombongan, menekankan bahwa sifat-sifat ini pada akhirnya dapat menyebabkan kejatuhan seseorang, seperti tenggelam dalam hujan badai, yang tidak dapat dihindari dan tidak dapat dikendalikan. Dalam konteks kehidupan dan hubungan, hal ini menganjurkan kerendahan hati, kesadaran, dan pengakuan atas kerentanan kita bersama—kualitas yang menumbuhkan pemahaman dan kasih sayang. Mungkin, dengan mengendalikan harga diri, kita terhindar dari bahaya melebih-lebihkan diri sendiri dan lebih memilih bersikap rendah hati, sehingga membuka jalan bagi interaksi dan pengalaman yang lebih tulus dan bermakna.