Melampaui sains, masuk ke wilayah metafisika. Agama yang sejati tidak dapat dibantah. Itu hanya bisa dijalani baik secara lahiriah maupun batiniah.
(Go beyond science, into the region of metaphysics. Real religion is beyond argument. It can only be lived both inwardly and outwardly.)
Kutipan ini mengundang refleksi mendalam tentang hakikat pemahaman spiritual dan keterbatasan penyelidikan ilmiah. Meskipun sains memberi kita pengetahuan empiris tentang alam semesta fisik, sains seringkali tidak dapat menjawab pertanyaan mendasar tentang keberadaan, tujuan, dan ketuhanan yang menjadi inti metafisika dan agama. Saran untuk melampaui sains menekankan pentingnya pengetahuan berdasarkan pengalaman dan intuitif – aspek realitas yang tidak dapat sepenuhnya dipahami melalui penalaran atau eksperimen saja. Menghidupi agama yang sejati bukanlah tentang dogma, ritual, atau perdebatan intelektual; ini tentang mewujudkan nilai-nilai, kasih sayang, dan rasa keterhubungan baik secara internal maupun eksternal. Pendekatan ke dalam dan ke luar ini menunjukkan bahwa spiritualitas sejati terwujud dalam kesadaran batin seseorang dan tindakan lahiriah, yang mencerminkan cara hidup yang terintegrasi. Untuk benar-benar memahami dan mewujudkan kebenaran spiritual, seseorang harus bergerak melampaui pemahaman intelektual dan terlibat dalam pengalaman hidup, membiarkan prinsip-prinsip ilahi atau metafisik meresap ke dalam seluruh keberadaan seseorang. Hal ini menyoroti pentingnya keaslian dalam latihan spiritual, mendesak kita untuk menghayati keyakinan kita secara otentik dan bukan sekadar berdebat atau mengintelektualisasikannya. Perspektif ini mendorong kerendahan hati, keterbukaan, dan ketulusan sebagai komponen penting dari spiritualitas sejati, mengingatkan kita bahwa agama yang sejati adalah pengalaman hidup yang melampaui kata-kata dan argumen — sebuah perjalanan transformasi batin dan pelayanan lahiriah yang menyelaraskan kehidupan pribadi dengan prinsip-prinsip ilahi.