Graff telah mengisolasi Ender untuk membuatnya kesulitan. Untuk membuktikan kepadanya, bukan bahwa ia kompeten, melainkan bahwa ia jauh lebih baik daripada orang lain. Itulah satu-satunya cara dia bisa mendapatkan rasa hormat dan persahabatan. Hal ini membuatnya menjadi prajurit yang lebih baik dari sebelumnya. Hal itu juga membuatnya kesepian, takut, marah, dan tidak percaya. Dan mungkin sifat-sifat itu juga yang membuatnya menjadi prajurit yang lebih baik.
(Graff had isolated Ender to make him struggle. To make him prove, not that he was competent, but that he was far better than everyone else. That was the only way he could win respect and friendship. It made him a better soldier then he would ever have been otherwise. It also made him lonely, afraid, angry, untrusting. And maybe those traits, too, made him a better soldier.)
Karakter Graff dalam "Ender's Game" sengaja mengisolasi Ender untuk menciptakan lingkungan yang menantang yang memaksanya untuk unggul melebihi rekan-rekannya. Meskipun mengalami kesulitan, strategi ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan Ender dan memastikan dia mendapatkan rasa hormat dan penerimaan, yang mungkin tidak bisa dia capai hanya dengan menjadi kompeten. Metode ini pada akhirnya mengubah Ender menjadi prajurit yang unggul dibandingkan dengan apa yang bisa dia lakukan di lingkungan sosial yang berbeda.
Namun, keterasingan ini menimbulkan dampak emosional yang besar pada Ender, yang menyebabkan perasaan kesepian, ketakutan, dan kemarahan. Emosi negatif ini berkontribusi pada kurangnya kepercayaan pada orang lain, namun juga mempertajam keterampilannya sebagai seorang prajurit. Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah pengorbanan yang dilakukan atas nama keunggulan sepadan dengan perjuangan pribadi yang menyertai tekanan yang begitu kuat.