Saya ingat ketika berada lebih jauh dari pusat kota New York selain Canal Street, ada risiko dan seluruh area masih tampak seperti lokasi film polisi tahun 70an; ketika pemilik loteng asli adalah tipe artistik yang lebih terburu-buru daripada uang tunai.
(I can remember when anything further downtown New York than Canal Street was risky and the whole area still looked like a '70s cop movie location; when the original loft-owners were more dash-than-cash, artistic types.)
Kutipan ini dengan jelas menangkap sekilas nostalgia transformasi Kota New York. Hal ini menyoroti bagaimana kawasan pusat kota, yang dahulu dianggap berani dan agak berpasir, telah berkembang seiring berjalannya waktu, menghilangkan reputasi sinematiknya yang kasar dan berubah menjadi pemandangan yang lebih halus dan lebih halus. Penyebutan pemilik loteng asli sebagai 'dash-than-cash' menggarisbawahi masa ketika kesenian dan semangat memberontak mendefinisikan lingkungan tersebut, kontras dengan tampilan modernnya. Refleksi semacam ini mengingatkan kita akan sifat dinamis lanskap kota—yang penuh pedih dalam perpaduan antara sejarah, budaya, dan perubahan yang terus-menerus.