Saya tidak berpikir Tuhan mengatakan kita semua harus bersikap lembut. Tugas saya adalah bersaing, dan yang terbaiklah yang menang. Saya akan terus bermain, dan itulah cara saya sukses dalam hidup saya. Jika aku tidak sengaja memukulmu, yang bisa kukatakan hanyalah 'Maaf', dan aku terus melanjutkan.

Saya tidak berpikir Tuhan mengatakan kita semua harus bersikap lembut. Tugas saya adalah bersaing, dan yang terbaiklah yang menang. Saya akan terus bermain, dan itulah cara saya sukses dalam hidup saya. Jika aku tidak sengaja memukulmu, yang bisa kukatakan hanyalah 'Maaf', dan aku terus melanjutkan.


(I don't think God said we should all be soft. My job is to compete, and the best prevails. I will continue to play, and that's the way I'm succeeding in my life. If I hit you by mistake, all I can say is 'I'm sorry,' and I keep moving on.)

(0 Ulasan)

Kutipan Dikembe Mutombo ini mencerminkan realitas kehidupan yang menekankan ketahanan, persaingan, dan tanggung jawab. Hal ini menawarkan sudut pandang yang didasarkan pada ketekunan dan penerimaan bahwa kompetisi pada dasarnya melibatkan konflik dan risiko, baik dalam olahraga atau kehidupan secara umum. Pernyataan tersebut dimulai dengan refleksi mengenai ketangguhan, yang menunjukkan bahwa kelembutan atau kepasifan mungkin bukan jalan yang diinginkan, terutama ketika seseorang memiliki tujuan yang ambisius. Hal ini mencerminkan sebuah prinsip penting: upaya untuk mencapai dan mencapai kesuksesan sering kali memerlukan karakter yang kuat dan tangguh. Bagian selanjutnya berpusat pada semangat kompetitif, yang menyiratkan bahwa upaya untuk menjadi yang terbaik adalah tujuan yang wajar, mungkin ilahi. Ungkapan “yang terbaiklah yang menang” mencerminkan pengakuan pragmatis atas keberhasilan melalui prestasi dan usaha, bukan sekadar partisipasi. Komitmen Mutombo untuk terus bermain mencerminkan dedikasi dan kemauan kuat untuk terus maju, apapun kemunduran atau kesalahannya. Pengakuannya atas kerugian yang tidak disengaja, diikuti dengan permintaan maaf yang tulus dan move on, menambah sentuhan kemanusiaan pada narasi kompetitif. Hal ini mengingatkan kita bahwa kesalahan tidak bisa dihindari dalam upaya apa pun, namun merespons dengan tepat dan terus maju sangatlah penting. Garis ini menggabungkan akuntabilitas dengan tekad untuk mempertahankan kemajuan. Secara keseluruhan, kutipan tersebut merangkum nilai-nilai seperti ketahanan, akuntabilitas, semangat kompetitif, dan ketekunan. Buku ini menantang pembaca untuk menerima ketangguhan, mengakui kesalahan mereka, dan terus berusaha maju—prinsip-prinsip yang tidak hanya berlaku di bidang olahraga, namun juga dapat diterapkan oleh siapa pun yang berjuang untuk tumbuh dan sukses di berbagai bidang kehidupan.

Page views
143
Pembaruan
Mei 30, 2025

Rate the Quote

Tambah Komentar & Ulasan

Ulasan Pengguna

Berdasarkan 0 ulasan
5 Bintang
0
4 Bintang
0
3 Bintang
0
2 Bintang
0
1 Bintang
0
Tambah Komentar & Ulasan
Kami tidak akan pernah membagikan email Anda dengan orang lain.