Saya seorang penulis skenario yang sangat lambat. Butuh waktu bagi saya untuk menulis skenario. Juga, aku merasa itu bukan kekuatanku.
(I'm a very slow screenwriter. It takes time for me to write a screenplay. Also, I feel it's not my strength.)
Pengakuan jujur Denis Villeneuve menyoroti proses kreatif di balik penulisan skenario dan berbagai perjuangan yang menyertainya, bahkan bagi pembuat film sukses. Pernyataannya mengungkapkan kerentanan yang sering tersembunyi di balik produk akhir yang dipoles – pengakuan bahwa bakat berbeda-beda di berbagai aspek seni dan bahwa kesabaran adalah elemen penting dalam menciptakan karya yang bermakna. Menulis skenario itu menuntut; hal ini tidak hanya membutuhkan imajinasi tetapi juga pemahaman menyeluruh tentang tempo, pengembangan karakter, dialog, dan struktur. Pengakuan Villeneuve bahwa penulisan skenario bukanlah keahliannya yang paling kuat menggarisbawahi wawasan berharga bahwa bahkan seniman terkenal pun menghadapi tantangan dalam beberapa bagian karya mereka. Kerendahan hati ini dapat menjadi inspirasi bagi calon penulis dan kreatif, mengingatkan mereka bahwa keunggulan tidak selalu berarti kecepatan atau bakat bawaan, namun tentang ketekunan dan kesadaran diri.
Selain itu, gagasan menjadi penulis skenario yang "lambat" menunjukkan banyak hal tentang ritme kreatif dan pola pikir kualitas melebihi kuantitas. Meluangkan waktu memastikan bahwa cerita dan naskah disempurnakan, bernuansa, dan mendekati visi pencipta. Hal ini merupakan jaminan bahwa terkadang, pekerjaan terbaik muncul dari upaya yang disengaja dan bijaksana, bukan produktivitas yang terburu-buru. Perspektif ini mendorong kesabaran, rasa sayang pada diri sendiri, dan pemahaman bahwa seni yang hebat tidak selalu datang dengan mudah. Refleksi Villeneuve juga dapat memicu perbincangan seputar keragaman alur kerja di industri kreatif, memvalidasi langkah dan metode yang berbeda sambil mengupayakan keaslian dan keunggulan dalam penyampaian cerita.