Aku menyakitimu untuk menjadikanmu prajurit yang lebih baik dalam segala hal. Untuk mempertajam kecerdasan Anda. Untuk mengintensifkan upaya Anda. Agar Anda tidak seimbang, jangan pernah yakin apa yang akan terjadi selanjutnya, jadi Anda harus selalu siap untuk apa pun, siap berimprovisasi, bertekad untuk menang, apa pun yang terjadi. Aku juga membuatmu sengsara.
(I'm hurting you to make you a better soldier in every way. To sharpen your wit. To intensify your effort. To keep you off balance, never sure what's going to happen next, so you always have to be ready for anything, ready to improvise, determined to win no matter what. I'm also making you miserable.)
Dalam "Ender's Game", protagonis Ender Wiggin menjalani metode pelatihan keras yang dirancang untuk membentuknya menjadi pemimpin dan prajurit yang luar biasa. Instrukturnya percaya bahwa ketidaknyamanan dan ketidakpastian merupakan komponen penting dalam mengembangkan keterampilannya, mendorongnya untuk beradaptasi dengan cepat dan berpikir kritis dalam situasi yang menantang. Penekanannya ditempatkan pada pentingnya bersiap menghadapi segala kemungkinan, yang dipandang penting untuk keberhasilan baik dalam pertempuran maupun strategi.
Namun, pelatihan tanpa henti ini menimbulkan kerugian pribadi bagi Ender. Kutipan tersebut menyoroti dualitas pengalamannya: saat ia diasah menjadi sosok yang tangguh, proses tersebut membuatnya terluka secara emosional dan sengsara. Hubungan kompleks antara penderitaan dan pertumbuhan ini mengundang refleksi lebih dalam mengenai sifat kepemimpinan dan pengorbanan yang diperlukan, yang menggambarkan bahwa jalan menuju kehebatan sering kali melibatkan tantangan pribadi yang signifikan.