Saya ingat ketika saya di kelas tiga, saya berada di ruang kelas, dan guru berkata, 'Apa yang ingin kamu lakukan ketika kamu sudah dewasa?' Kami berkeliling ruangan. Saya berkata, 'Saya ingin menjadi pemain bola basket profesional.' Dia berkata, 'Itu tidak realistis.' Saya berpikir, 'Oke, lihat.'
(I remember when I was in third grade, I was in a classroom, and the teacher said, 'What do you want to do when you get older?' We were going around the room. I said, 'I want to be a professional basketball player.' She's like, 'That's not realistic.' I thought to myself, 'OK, watch.')
Kutipan ini mencontohkan kekuatan tekad dan kepercayaan diri. Meskipun ada keraguan yang diungkapkan oleh figur otoritas, seperti guru yang menolak tujuan menjadi pemain bola basket profesional, individu tersebut memilih untuk membuktikan bahwa orang yang ragu itu salah melalui ketekunan. Hal ini menyoroti bagaimana impian masa kecil dapat berfungsi sebagai katalisator motivasi dan ketahanan, mendorong kita untuk mengejar tujuan ambisius terlepas dari skeptisisme orang lain. Fokus yang teguh pada ambisi seseorang dapat menginspirasi orang lain untuk menantang keterbatasan dan mengikuti hasrat mereka. Pada akhirnya, ini adalah bukti bagaimana pola pikir yang kuat dapat mewujudkan aspirasi menjadi kenyataan dengan kegigihan.