Saya ingin menulis buku tentang bagaimana rasanya menjadi 50 tahun dan mencoba menemukan kembali diri Anda - perjuangan itu. Ada banyak buku dan pembicara inspiratif yang berbicara tentang menjadi pembelajar seumur hidup, dan sungguh luar biasa untuk menemukan kembali diri Anda, merek diri Anda. Dan saya ingin mengatakan, Anda tahu, tidak seperti itu. Ini sebenarnya sangat menyakitkan.
(I wanted to write a book about what it's like to be 50 and trying to reinvent yourself - that struggle. There are all these books and inspirational speakers talking about being a lifelong learner, and it's so great to reinvent yourself, the brand of you. And I wanted to say, you know, it's not like that. It's actually really painful.)
Kutipan ini menyoroti realitas emosional yang sering diabaikan di balik penemuan kembali pribadi, terutama di kemudian hari. Masyarakat sering kali mempromosikan gagasan bahwa penemuan kembali diri adalah hal yang memberdayakan dan lugas, namun pembicaranya menekankan penderitaan emosional dan perjuangan yang terlibat di dalamnya. Hal ini mengingatkan kita bahwa pertumbuhan dan perubahan dapat menjadi sebuah tantangan dan mungkin melibatkan ketidaknyamanan, bukan hanya inspirasi. Menyadari kompleksitas ini akan menumbuhkan empati dan kesabaran yang lebih besar terhadap diri sendiri selama periode transformatif.