Dalam keluarga Hindu tradisional seperti keluarga kami, laki-laki diberi nafkah dan perempuan diberi nafkah. Ayah saya adalah seorang kepala keluarga dan saya adalah seorang putri yang patuh. Lingkungan tempat saya dibesarkan adalah lingkungan yang mayoritas beragama Hindu, berbahasa Bengali, dan kelas menengah. Saya tidak berharap diri saya untuk tidak menaati atau mengecewakan ayah saya dengan menetapkan tujuan saya sendiri dan mengambil alih masa depan saya.

Dalam keluarga Hindu tradisional seperti keluarga kami, laki-laki diberi nafkah dan perempuan diberi nafkah. Ayah saya adalah seorang kepala keluarga dan saya adalah seorang putri yang patuh. Lingkungan tempat saya dibesarkan adalah lingkungan yang mayoritas beragama Hindu, berbahasa Bengali, dan kelas menengah. Saya tidak berharap diri saya untuk tidak menaati atau mengecewakan ayah saya dengan menetapkan tujuan saya sendiri dan mengambil alih masa depan saya.


(In traditional Hindu families like ours, men provided and women were provided for. My father was a patriarch and I a pliant daughter. The neighborhood I'd grown up in was homogeneously Hindu, Bengali-speaking, and middle-class. I didn't expect myself to ever disobey or disappoint my father by setting my own goals and taking charge of my future.)

(0 Ulasan)

Kutipan ini memberikan gambaran yang jelas tentang alokasi peran spesifik gender yang berakar pada budaya dalam rumah tangga tradisional Hindu Bengali. Hal ini membangkitkan harapan masyarakat yang sudah mendarah daging, dimana laki-laki dipandang sebagai pemberi nafkah dan figur otoritas, dan perempuan diharapkan menjadi orang yang mengasuh dan patuh. Narasi pribadi mengungkapkan masa kanak-kanak yang dikondisikan oleh norma-norma ini, menekankan pentingnya konformitas dan kewajiban berbakti. Penggambaran lingkungan tersebut sebagai komunitas Hindu dan kelas menengah yang homogen semakin menggarisbawahi komunitas yang selaras dengan standar budaya dan sosial ekonomi tertentu, sehingga memperkuat peran tradisional. Pola asuh seperti ini dapat menumbuhkan rasa stabilitas dan identitas yang kuat namun juga dapat membatasi aspirasi individu, terutama bagi perempuan. Pengakuan pembicara atas penerimaan sebelumnya terhadap peran-peran ini menyoroti internalisasi norma-norma masyarakat sejak usia dini. Hal ini mengingatkan kita pada tema yang lebih luas mengenai peran gender, ekspektasi budaya, dan perjalanan dari tradisionalisme menuju kesadaran diri dan berpotensi pemberdayaan diri. Hal ini mendorong refleksi tentang bagaimana lingkungan masyarakat membentuk identitas individu dan keberanian yang dibutuhkan untuk menantang norma-norma yang sudah lama ada untuk menentukan jalannya sendiri. Mengenali latar belakang ini sangat penting dalam memahami kompleksitas yang mungkin dihadapi individu dalam konteks tersebut ketika mengarahkan ambisi pribadi terhadap ekspektasi budaya dan keluarga.

Page views
75
Pembaruan
Juli 14, 2025

Rate the Quote

Tambah Komentar & Ulasan

Ulasan Pengguna

Berdasarkan 0 ulasan
5 Bintang
0
4 Bintang
0
3 Bintang
0
2 Bintang
0
1 Bintang
0
Tambah Komentar & Ulasan
Kami tidak akan pernah membagikan email Anda dengan orang lain.