Saya tidak lagi melukis interior dengan laki-laki membaca dan perempuan merajut. Saya akan melukis orang-orang hidup yang bernapas, merasakan, menderita, dan mencintai.
(No longer shall I paint interiors with men reading and women knitting. I will paint living people who breathe and feel and suffer and love.)
Kutipan dari Edvard Munch ini menangkap perubahan penting dalam perspektif artistik—pergerakan dari penggambaran tradisional yang statis menuju penggambaran pengalaman manusia yang lebih autentik dan dinamis. Hal ini sangat berpengaruh karena menggarisbawahi pentingnya mengenali kedalaman emosi manusia dan kompleksitas kehidupan sebagaimana adanya, bukan hanya sekedar adegan yang dibuat-buat atau gambaran stereotipikal. Komitmen Munch terhadap lukisan "manusia hidup yang bernapas, merasakan, menderita, dan mencintai" mencerminkan pendirian filosofis yang lebih luas: seni harus mengungkapkan kementahan keberadaan dan segudang emosi yang mendefinisikannya, alih-alih menampilkan representasi yang dangkal.
Kutipan tersebut juga menunjukkan ketegangan abadi antara konvensi dan inovasi. Munch memutuskan untuk meninggalkan hal-hal yang diharapkan dan biasa-biasa saja—bacaan untuk pria dan aktivitas merajut untuk wanita, aktivitas yang mungkin terkesan pasif atau terbatas—demi eksplorasi kehidupan batin seseorang yang kaya. Kesediaan untuk menantang norma-norma ini mendorong kita untuk menerima kerentanan dan keaslian, baik dalam seni maupun kehidupan. Dengan menyoroti seluruh spektrum emosi manusia, pendekatan Munch menumbuhkan empati dan koneksi, mengingatkan kita bahwa kisah setiap orang adalah dinamis dan patut mendapat perhatian.
Di era di mana budaya visual sering kali mengedepankan kesempurnaan yang dikurasi, pesan ini sangat kuat. Hal ini mengundang para pencipta dan pemirsa untuk melihat ke balik permukaan dan mengapresiasi kompleksitas dari apa artinya hidup. Melukis atau menggambarkan orang-orang yang benar-benar "bernafas, merasakan, menderita, dan mencintai" berarti menghormati kondisi manusia dengan segala ketidaksempurnaannya yang indah.