Sebelum kembali ke perguruan tinggi, saya mempunyai banyak waktu luang, jadi saya seperti, ahhh, saya selalu menginginkan gelar master, ayo kita lakukan. Begitu saya mendaftar, saya tidak punya waktu.

Sebelum kembali ke perguruan tinggi, saya mempunyai banyak waktu luang, jadi saya seperti, ahhh, saya selalu menginginkan gelar master, ayo kita lakukan. Begitu saya mendaftar, saya tidak punya waktu.


(Prior to getting back into college, I had lots of free time, so I was like, ahhh, I've always wanted a master's, let's go do it. As soon as I signed up, I had no time.)

(0 Ulasan)

Kutipan ini menyoroti pengalaman umum ketika individu mengejar pendidikan tinggi atau usaha baru berdasarkan periode waktu luang atau kemalasan yang dirasakan. Kegembiraan awal seringkali berasal dari keinginan untuk mencapai tujuan yang telah lama dicita-citakan atau memenuhi cita-cita pribadi, seperti mendapatkan gelar master. Namun, kenyataan dalam menyeimbangkan tanggung jawab akademis dengan komitmen yang ada dengan cepat menjadi jelas, mengungkapkan bagaimana waktu luang yang dirasakan dapat dengan cepat berkurang begitu tanggung jawab nyata ditetapkan. Hal ini menggarisbawahi pentingnya persiapan dan memahami batasan seseorang sebelum memulai usaha yang signifikan. Pergeseran cepat dari antusiasme ke kesibukan mengingatkan kita bahwa motivasi saja tidak cukup; manajemen waktu yang efektif dan harapan yang realistis sangat penting untuk kesuksesan. Kutipan tersebut juga menekankan bagaimana prioritas berubah ketika mengalami beban kerja yang sebenarnya, yang sering kali menyebabkan peningkatan stres tetapi pada akhirnya juga pertumbuhan pribadi. Hal ini selaras dengan siapa pun yang telah mengambil tantangan baru dengan antusiasme idealis namun menghadapi rintangan tak terduga di sepanjang jalan. Mengenali pola ini dapat membantu calon pembelajar dan profesional mempersiapkan diri dengan lebih baik secara mental dan praktis untuk menghadapi transisi, memastikan mereka dapat mempertahankan upaya mereka tanpa merasa kewalahan. Pada akhirnya, refleksi ini mengungkap paradoks motivasi manusia—keinginan untuk mencapai hal-hal besar sering kali disertai dengan pengorbanan dan penyesuaian, sehingga pemahaman dan perencanaan terhadap perubahan ini sangat penting untuk pemenuhan dan kesuksesan jangka panjang.

Page views
36
Pembaruan
Desember 25, 2025

Rate the Quote

Tambah Komentar & Ulasan

Ulasan Pengguna

Berdasarkan 0 ulasan
5 Bintang
0
4 Bintang
0
3 Bintang
0
2 Bintang
0
1 Bintang
0
Tambah Komentar & Ulasan
Kami tidak akan pernah membagikan email Anda dengan orang lain.