Akhir abad ke-20 memiliki kemampuan komunikasi yang cukup untuk memungkinkan terjadinya superstar dan komunalitas. Itu adalah kebangkitan musik yang menyaingi kebangkitan visual yang terjadi pada tahun 1400-an.
(The late 20th century had just enough communication abilities to allow superstar-ness and communality to happen. It was a musical renaissance that rivals the visual one that happened in the 1400s.)
Kutipan ini menyoroti periode penting dalam sejarah budaya, menekankan bagaimana kemajuan teknologi komunikasi di akhir abad ke-20 memainkan peran penting dalam membentuk musik dan budaya populer. Analogi yang diambil antara kebangkitan musik dan kebangkitan visual pada tahun 1400-an menggarisbawahi dampak besar peningkatan konektivitas dan paparan media terhadap perkembangan bakat musik dan keterlibatan penggemar. Selama era ini, inovasi seperti televisi satelit, munculnya MTV, radio, dan akhirnya Internet, memfasilitasi penyebaran gaya musik baru dengan cepat dan munculnya artis-artis yang sangat populer— 'superstar'—yang dapat terhubung langsung dengan penontonnya dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Hal ini tidak hanya mendemokratisasi akses terhadap konten musik tetapi juga menumbuhkan rasa kebersamaan di antara para penggemar di seluruh dunia, menciptakan fenomena budaya bersama yang melampaui batas-batas geografis. Demokratisasi ini dapat dilihat sebagai pedang bermata dua: di satu sisi, demokratisasi memberdayakan seniman dan menyuarakan beragam genre; di sisi lain, hal ini berkontribusi terhadap komersialisasi dan budaya selebriti yang terkadang membayangi musik itu sendiri. Perbandingan dengan kebangkitan visual pada tahun 1400-an menunjukkan adanya persamaan antara kekuatan transformatif dalam menemukan kembali ekspresi artistik setelah periode stagnasi atau ketidakjelasan budaya. Hal ini mendorong refleksi tentang bagaimana perubahan teknologi dan sosial terus mempengaruhi ekspresi artistik dan bagaimana revolusi budaya sering kali terkait dengan kemajuan komunikasi. Secara keseluruhan, periode ini memberikan contoh bagaimana teknologi mendorong kelahiran kembali budaya dan bagaimana seniman dan penonton sama-sama dibentuk oleh alat-alat mereka, yang pada akhirnya mengarah pada permadani budaya yang kaya, saling terhubung, dan dinamis.