Mayoritas remaja bahkan tidak melakukan kontak mata dengan orang, bahkan orang yang seumuran sekalipun.
(The majority of teenagers don't even make eye contact with people, even people of the same age.)
Kutipan ini menyoroti aspek menarik dari remaja modern: kecenderungan menuju keterputusan sosial meskipun dikelilingi oleh teman sebaya. Di dunia yang semakin didominasi oleh komunikasi digital, interaksi tatap muka seperti kontak mata nampaknya semakin menurun, terutama di kalangan remaja. Kontak mata sering kali dipandang sebagai komponen mendasar dari hubungan antarmanusia, yang menunjukkan kepercayaan diri, empati, dan pengakuan. Ketidakhadirannya mungkin mencerminkan permasalahan yang lebih mendalam seperti kecemasan sosial, pelarian digital, atau pergeseran masyarakat yang memprioritaskan interaksi virtual dibandingkan interaksi di dunia nyata. Fenomena ini menimbulkan kekhawatiran terhadap perkembangan keterampilan interpersonal dan kecerdasan emosional pada generasi muda. Ketika remaja tumbuh menjadi dewasa, kemampuan mereka untuk terhubung melalui isyarat halus seperti kontak mata dapat memengaruhi hubungan pribadi, kolaborasi akademis, dan bahkan kesuksesan profesional. Hal ini mendorong kita untuk mempertimbangkan bagaimana tren budaya dan pengaruh teknologi saat ini dapat secara tidak sengaja mengurangi keterampilan sosial yang penting. Pendidik, orang tua, dan masyarakat luas harus menyadari pentingnya membina interaksi sosial yang tulus. Menciptakan lingkungan yang mendorong percakapan tatap muka dan kesadaran emosional dapat membantu menjembatani keterputusan ini. Dasar-dasar empati dan saling pengertian dapat dipertahankan dan diperkuat jika lebih banyak penekanan diberikan pada praktik komunikasi yang tulus dan langsung di kalangan remaja. Pada akhirnya, kutipan tersebut menjadi peringatan akan pentingnya menjaga hubungan antarmanusia di dunia yang semakin digital, dan menekankan bahwa gerakan kecil seperti kontak mata sangat penting untuk membangun kepercayaan dan membina komunitas.