Para peziarah membuat kuburan tujuh kali lebih banyak daripada gubuk. Tidak ada orang Amerika yang lebih miskin daripada mereka yang tetap menyisihkan hari syukuran.
(The Pilgrims made seven times more graves than huts. No Americans have been more impoverished than these who nevertheless set aside a day of thanksgiving.)
Kutipan ini dengan tajam menggambarkan kesulitan dan ketangguhan para peziarah selama awal pemukiman mereka di Amerika. Perbandingan yang mencolok antara kuburan dan gubuk menyoroti angka kematian dan penderitaan yang mereka hadapi—menunjukkan bahwa kematian jauh lebih umum terjadi dibandingkan kenyamanan berlindung di tahun-tahun awal yang sulit tersebut. Fakta bahwa mereka menguburkan orang sebanyak tujuh kali lebih banyak dibandingkan jumlah orang yang mereka bangun rumah menunjukkan betapa besarnya tantangan dalam membangun kehidupan baru di tanah yang belum dipetakan dan tak kenal ampun.
Namun, yang paling menonjol adalah pengakuan bahwa bahkan di tengah kemiskinan dan keputusasaan, para jamaah memilih untuk mengungkapkan rasa syukur dengan menetapkan hari syukur. Pilihan ini menggarisbawahi kebenaran kemanusiaan yang kuat: rasa syukur tidak bergantung pada kekayaan materi atau keadaan yang menguntungkan, melainkan merupakan tindakan yang disengaja untuk mengakui apa yang tetap berharga meskipun ada kesulitan. Keputusan mereka untuk merayakan syukur di tengah kesulitan tersebut menjadi pelajaran abadi tentang harapan, ketekunan, dan kapasitas jiwa manusia untuk menemukan makna dan solidaritas komunal bahkan dalam penderitaan.
Merenungkan kutipan ini, saya teringat bagaimana praktik syukur saat ini sering kali datang dari tempat yang berkelimpahan. Namun perspektif sejarah ini mendorong apresiasi yang lebih dalam bagi mereka yang menemukan alasan untuk bersyukur ketika segala sesuatu di sekitar mereka mengarah pada kelangkaan dan kehilangan. Hal ini mengajak kita untuk memikirkan kembali rasa syukur sebagai sumber kekuatan dan ketahanan, bukan sekedar ekspresi kenyamanan. Pada akhirnya, contoh para peziarah ini menggambarkan bahwa bahkan di saat-saat tergelap sekalipun, kita dapat menyisihkan momen untuk mengakui dan merayakan kehidupan, menciptakan landasan bagi harapan dan pembaruan.