Stigma yang dulu melekat pada hal-hal yang dianggap tidak sehat oleh masyarakat justru menjadikan hal-hal tersebut tidak diinginkan. Dengan hilangnya stigma tersebut, banyak orang tidak mempunyai alasan untuk tidak melakukan apa pun yang mereka anggap baik saat ini.
(The stigma that was once attached to things society deemed unhealthy served the purpose of making them undesirable. With the stigma gone, many people see little reason not to do whatever feels good at the moment.)
Kutipan ini menyoroti bagaimana persepsi dan rasa malu masyarakat secara historis mengatur perilaku yang dianggap tidak sehat atau tidak diinginkan. Ketika stigma-stigma ini dihilangkan, individu mungkin akan memprioritaskan kepuasan sesaat dibandingkan kesejahteraan jangka panjang. Hal ini mendorong kita untuk mempertimbangkan keseimbangan antara kebebasan pribadi dan tanggung jawab sosial, serta pentingnya konteks ketika mengevaluasi perilaku dan dampaknya terhadap kesehatan dan masyarakat.