Wanita yang berpikir dia bisa memilih feminitas, bisa mempermainkannya seperti peminum sosial yang mempermainkan anggur - yah, dia memintanya, meminta untuk dibatalkan, dilahap, meminta untuk menghabiskan hidupnya melakukan penipuan baru, membuat identitas palsu baru, hanya saja kali ini kesetaraannya yang palsu.

Wanita yang berpikir dia bisa memilih feminitas, bisa mempermainkannya seperti peminum sosial yang mempermainkan anggur - yah, dia memintanya, meminta untuk dibatalkan, dilahap, meminta untuk menghabiskan hidupnya melakukan penipuan baru, membuat identitas palsu baru, hanya saja kali ini kesetaraannya yang palsu.


(The woman who thinks she can choose femininity, can toy with it like the social drinker toys with wine - well, she's asking for it, asking to be undone, devoured, asking to spend her life perpetrating a new fraud, manufacturing a new fake identity, only this time it's her equality that's fake.)

📖 Rachel Cusk

🌍 Kanada  |  👨‍💼 Novelis

(0 Ulasan)

Kutipan ini menyelidiki dinamika kompleks feminitas dan persepsi diri dalam konstruksi masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa ketika seorang wanita memandang feminitas sebagai sebuah pilihan, dia mungkin sedang melakukan suatu bentuk permainan peran yang performatif, seperti kecanduan alkohol, yang pada dasarnya berisiko dan berpotensi merusak. Metafora tersebut menyiratkan bahwa ada bahaya tersembunyi dalam memanipulasi identitas-identitas ini - bahwa keceriaan seperti itu dapat menyebabkan kedangkalan atau hilangnya keaslian. Lebih lanjut, kutipan tersebut menyentuh konsep keaslian versus façade, mengkritik perempuan yang, mungkin dalam upaya mencapai pemberdayaan atau kesetaraan, menciptakan kepribadian atau narasi palsu agar selaras dengan cita-cita masyarakat. Laporan ini mengeksplorasi gagasan bahwa pertunjukan sukarela seperti itu pada akhirnya dapat melemahkan identitas perempuan yang sebenarnya, sehingga membuat representasi kesetaraan menjadi dangkal dan palsu. Pesan mendasarnya mungkin berupa pernyataan peringatan mengenai bahaya tindakan feminis yang dangkal atau manipulasi peran gender agar sesuai dengan harapan masyarakat, dan bukannya menantang gagasan tersebut secara mendalam. Hal ini mendorong refleksi diri mengenai apakah pilihan seputar feminitas benar-benar memberdayakan atau hanya membuat identitas yang menyembunyikan rasa tidak aman atau tekanan sosial yang lebih dalam. Nada tersebut membawa rasa kritik terhadap mereka yang mungkin mempermainkan gender sebagai bentuk hiburan atau pemberontakan, yang berisiko kehilangan jati diri mereka dalam prosesnya. Secara keseluruhan, hal ini menggarisbawahi pentingnya keaslian dan introspeksi dalam mendefinisikan identitas dan integritas seseorang di tengah tekanan masyarakat.

Page views
67
Pembaruan
Juli 23, 2025

Rate the Quote

Tambah Komentar & Ulasan

Ulasan Pengguna

Berdasarkan 0 ulasan
5 Bintang
0
4 Bintang
0
3 Bintang
0
2 Bintang
0
1 Bintang
0
Tambah Komentar & Ulasan
Kami tidak akan pernah membagikan email Anda dengan orang lain.