Tidak jarang terjadi krisis dalam kehidupan manusia, bangsa, dan dunia, ketika bentuk-bentuk lama tampaknya siap membusuk, dan aturan-aturan lama telah kehilangan kekuatan pengikatnya. Kejahatan sistem yang ada mengaburkan manfaat yang menyertainya, dan, ketika reformasi diperlukan, seruan subversi pun dimunculkan.
(There comes not seldom a crisis in the life of men, of nations, and of worlds, when the old forms seem ready to decay, and the old rules of action have lost their binding force. The evils of existing systems obscure the blessings that attend them, and, where reform is needed, the cry is raised for subversion.)
Kutipan ini menyoroti momen-momen pergolakan yang tak terhindarkan yang terjadi ketika sistem dan norma yang ada tidak lagi sesuai dengan tujuannya. Krisis-krisis seperti ini sering kali memperlihatkan kelemahan-kelemahan mendasar, sehingga sulit untuk melihat aspek-aspek positif dari tatanan yang ada saat ini. Masa-masa kekacauan ini dapat menjadi katalis bagi reformasi yang berarti, namun juga berisiko berubah menjadi kekacauan jika disalahpahami atau ditangani. Mengenali masa-masa ini sebagai peluang untuk perubahan konstruktif, bukan sekedar kehancuran, dapat membawa kemajuan dan pembaruan. Keseimbangan antara pelestarian dan transformasi sangatlah rumit; memahami kapan harus menantang dan kapan harus mempertahankannya sangat penting untuk pertumbuhan.