Saat ini kita tahu bahwa Perang Dunia II dimulai bukan pada tahun 1939 atau 1941, melainkan pada tahun 1920-an dan 1930-an ketika mereka yang seharusnya lebih tahu meyakinkan diri mereka sendiri bahwa mereka bukanlah penjaga saudara mereka.
(Today we know that World War II began not in 1939 or 1941 but in the 1920's and 1930's when those who should have known better persuaded themselves that they were not their brother's keeper.)
Kutipan ini menekankan gagasan bahwa asal muasal konflik besar seperti Perang Dunia II tidak bisa hanya ditentukan pada tahun-tahun resmi terjadinya konflik, namun berakar pada kegagalan politik, sosial, dan moral yang terjadi pada tahun 1920-an dan 1930-an. Hal ini menunjukkan bahwa tindakan atau kelambanan individu dan pemerintah selama periode ini—pilihan yang didorong oleh kepentingan pribadi, rasa puas diri, atau prioritas yang salah arah—berkontribusi secara signifikan terhadap kondisi yang membuat konflik global tidak dapat dihindari. Dengan merenungkan hal ini, menjadi jelas bahwa pelajaran sejarah sering kali terletak pada kesadaran akan pentingnya tanda-tanda peringatan dan tanggung jawab moral yang diabaikan. Ungkapan 'bukan penjaga saudaranya' mengisyaratkan kegagalan empati dan akuntabilitas, yang menyiratkan bahwa mereka yang berkuasa mungkin mengabaikan atau mengurangi pentingnya tanggung jawab kolektif terhadap kesejahteraan orang lain. Bagi masyarakat masa kini, pengingat ini menggarisbawahi pentingnya kewaspadaan, kejelasan moral, dan tindakan proaktif untuk mencegah konflik. Hal ini menunjukkan bahwa pengabaian atau rasionalisasi selama masa krisis dapat menabur benih bencana di masa depan. Kutipan tersebut menantang kita untuk mengakui bahwa tragedi perang bukan hanya tentang pertempuran yang terjadi namun tentang kegagalan etika yang memungkinkan konflik tersebut berkembang. Menyadari pelajaran-pelajaran ini sangat penting untuk memastikan bahwa negara-negara dan individu-individu modern sama-sama menjunjung tinggi kewajiban mereka terhadap komunitas dan kemanusiaan, berupaya mencegah terulangnya sejarah melalui pengabaian atau ketidakpedulian terhadap tanggung jawab moral.