Mengapa video game begitu penuh kekerasan? Yang pernah saya lihat mengingatkan saya pada tanggal 4 Juli, dengan segala sesuatu yang meledak, gedung, mobil, pesawat terbang, pria dan wanita. Bunuh, bunuh, dan bunuh untuk olahraga dan hiburan.
(Why are video games so violent? The ones I've seen remind me of the 4th of July, with everything exploding, buildings, cars, airplanes, men and women. Kill, kill, and kill for sport and entertainment.)
Kutipan tersebut memunculkan pengamatan kritis dan reflektif mengenai prevalensi kekerasan dalam video game, membandingkan skenario kekacauan dan kekerasan yang sering digambarkan dalam game-game tersebut dengan perayaan eksplosif pada tanggal 4 Juli. Citra yang digunakan—ledakan yang meliputi bangunan, kendaraan, dan manusia—menggarisbawahi bagaimana kekerasan dalam video game tidak hanya tersebar luas namun juga terus menerus dan meluas. Hal ini mencerminkan kekhawatiran masyarakat yang lebih luas mengenai bagaimana konsumsi media, khususnya hiburan interaktif seperti game, dapat menurunkan kepekaan masyarakat terhadap agresi dan pembunuhan, sehingga mengubah tindakan kekerasan menjadi olahraga dan hiburan. Hal ini merupakan pengingat yang tajam akan kekuatan yang dimiliki media untuk membentuk persepsi dan mungkin menormalkan perilaku yang, pada kenyataannya, memiliki konsekuensi yang besar. Namun, penting juga untuk mempertimbangkan kompleksitas video game sebagai bentuk seni dan aktivitas sosial. Banyak game yang membawa narasi dan gameplay lebih dari sekedar kekerasan, memberikan peluang untuk bercerita, strategi, pemecahan masalah, dan interaksi sosial. Pertanyaan yang diajukan mengajak kita untuk mengkaji dampak budaya dan psikologis media, menelusuri mengapa tema tertentu mendominasi, dan mempertimbangkan tanggung jawab pencipta dan konsumen. Hal ini juga membuka pembicaraan tentang keseimbangan antara ekspresi kreatif dan pertimbangan etis dalam media hiburan, mendorong kita untuk merefleksikan konsumsi media kita sendiri dan pesan-pesan yang dilestarikan. Intinya, kutipan tersebut berfungsi sebagai kritik yang kuat dan seruan untuk meningkatkan kesadaran terhadap konten yang kita produksi dan konsumsi, serta menantang kita untuk berpikir kritis tentang sifat dan dampak hiburan populer.