Kamu menyebutnya kegilaan tapi aku menyebutnya cinta.
(You call it madness but I call it love.)
Kutipan ini dengan indah menangkap garis tipis yang sering terlihat antara kegilaan dan cinta. Hal ini menunjukkan bahwa apa yang orang lain lihat sebagai perilaku irasional atau eksentrik, ketika didorong oleh kasih sayang atau gairah yang mendalam, dianggap oleh kekasih sebagai ekspresi cinta yang otentik. Cinta, dalam bentuknya yang paling murni, sering kali menantang norma-norma masyarakat dan batasan rasional. Orang cenderung menyebut tindakan pengabdian yang tidak lazim atau ekspresi emosi yang berani sebagai 'kegilaan', mungkin karena tindakan tersebut tidak sesuai dengan pemahaman mereka tentang keadaan normal. Namun, dari sudut pandang orang yang menerima perasaannya, tindakan seperti itu adalah perwujudan cinta yang otentik—tanpa filter dan tulus.
Cinta memiliki cara untuk mengubah persepsi dan mendobrak hambatan. Ketika seseorang benar-benar jatuh cinta, mereka mungkin bertindak di luar karakternya, membuat keputusan yang tidak rasional, atau melakukan upaya yang berisiko—semuanya atas nama cinta. Kutipan ini mengingatkan kita bahwa cinta bisa menjadi penuh gairah dan tanpa henti, terkadang bertentangan dengan logika atau ekspektasi masyarakat. Daripada menganggap tindakan ini sebagai kegilaan, mungkin kita harus menghargai keberanian dan kerentanan yang terlibat dalam cinta yang begitu mendalam. Hal ini menantang kita untuk mempertimbangkan kembali definisi kita tentang kewarasan dan mendorong keterbukaan terhadap ekspresi cinta yang pada awalnya mungkin tampak tidak lazim.
Lebih lanjut, kutipan tersebut juga menyinggung kecenderungan masyarakat yang menilai perilaku berdasarkan penampilan atau standar konvensional. Cinta, dalam berbagai bentuknya, tidak selalu sesuai dengan standar-standar ini. Merangkul cinta—meskipun terlihat 'gila'—dapat membawa pada kepuasan pribadi yang mendalam. Hal ini menekankan bahwa mengalami cinta secara autentik terkadang melibatkan keberanian untuk tampil beda, menonjol, atau bertindak melawan arus demi hubungan yang tulus. Pada akhirnya, hal ini mendorong pemahaman bahwa cinta, dalam bentuk yang paling sejati, tidak ternilai harganya dan layak mendapatkan dorongan yang paling kuat, meskipun hal itu tampak tidak rasional bagi orang lain.