Kehidupan yang tidak berarti apa-apa, Dari yang pertama tidak ada apa pun sebelum kelahirannya, Hingga tidak ada yang terakhir di bawah bumi.
(A life of nothing's nothing worth From that first nothing ere his birth To that last nothing under earth.)
Kutipan dari Lord Alfred Tennyson ini mengundang refleksi tentang sifat keberadaan manusia yang sementara dan sering kali tidak berarti. Hal ini menggarisbawahi gagasan bahwa sebelum kita dilahirkan dan setelah kita mati, kehidupan kita direduksi menjadi ketiadaan. Penekanan pada 'ketiadaan' di seluruh kutipan menunjukkan kontemplasi tentang kematian dan kembalinya ke ketiadaan yang tak terelakkan. Renungan-renungan seperti itu memang bisa membangkitkan perasaan melankolis, namun juga menawarkan perspektif bahwa kehidupan, dengan segala perjuangan dan kemenangannya, pada akhirnya hanya akan berlalu begitu saja. Menyadari hal ini dapat mengilhami rasa kerendahan hati dan fokus pada momen saat ini, memahami bahwa kehadiran sementara kita dalam skema besar kekekalan adalah apa yang benar-benar mendefinisikan diri kita. Selain itu, merenungkan ketiadaan dapat membuat seseorang mempertimbangkan pentingnya makna dan tujuan selama hidup kita yang singkat. Jika kehidupan ini begitu fana, menjadikan hari-hari dan tindakan kita penting menjadi sebuah pilihan sadar, yang menekankan keaslian dan makna. Kutipan tersebut menantang kita untuk merenungkan apa yang tersisa setelah kita tiada dan bagaimana warisan hidup kita tetap ada. Hal ini juga menimbulkan pertanyaan filosofis tentang keberadaan, kesadaran, dan apa, jika ada, yang bertahan setelah kematian fisik. Merangkul pemahaman ini dapat menumbuhkan perspektif yang tidak terlalu terbebani oleh kesombongan dan lebih selaras dengan upaya mencapai kepuasan sejati. Pada akhirnya, kutipan ini merangkum meditasi mendalam tentang kematian yang menenangkan dan menggugah pikiran, mengingatkan kita akan keseimbangan antara sifat kehidupan yang cepat berlalu dan pencarian makna abadi.