Dulu ketika saya memulai dunia independen, laki-laki tidak akan menonton pertandingan perempuan, dan jika mereka menontonnya, mereka akan melakukannya untuk mengolok-olok kami.
(Back in the day when I started on the independent scene, guys would not watch women's matches, and if they did, they would do it to make fun of us.)
Kutipan ini menyoroti tantangan awal yang dihadapi perempuan dalam gulat, khususnya bias yang meluas dan kurangnya rasa hormat dari penonton laki-laki. Hal ini mencerminkan bagaimana prasangka masyarakat dapat mengurangi pengakuan atas bakat dan kontribusi atletik perempuan. Mengatasi stereotip semacam itu membutuhkan ketahanan dan tekad, karena para atlet ini berusaha untuk mendapatkan pengakuan dan meningkatkan olahraga mereka. Hal ini juga menggarisbawahi pentingnya ketekunan dalam mendobrak hambatan dan mengubah persepsi tentang peran perempuan dalam arena kompetitif.