Dengan menggabungkan unsur-unsur seperti hipnosis, sihir, pemrograman neurolinguistik, dan psikologi, saya dapat membuat seolah-olah saya dapat meretas otak orang.
(By combining elements such as hypnosis, magic, neurolinguistic programming and psychology, I can make it appear that I can hack into people's brains.)
Kutipan ini menyoroti perpaduan menarik antara teknik psikologis dan metode hiburan yang digunakan untuk menciptakan ilusi membaca pikiran atau peretasan mental. Hal ini menggarisbawahi bagaimana penguasaan atas keterampilan tertentu dapat memanipulasi persepsi dan mempengaruhi pikiran orang lain, sering kali mengaburkan batas antara keahlian asli dan kecakapan memainkan pertunjukan. Penerapan semacam ini menimbulkan pertanyaan etis tentang keaslian, pengaruh, dan kekuatan sugesti baik dalam konteks hiburan maupun manipulasi.