Jangan bilang bulan bersinar, tunjukkan padaku kilatan cahaya di pecahan kaca.
(Don't tell me the moon is shining, show me the glint of light on broken glass.)
Kutipan ini menyoroti pentingnya menyampaikan kebenaran melalui contoh nyata, bukan hanya kata-kata atau asumsi. Seringkali, orang dapat menggambarkan fenomena menakjubkan atau kebenaran mendalam, namun bukti nyata dan nyatalah yang benar-benar meyakinkan atau menginspirasi orang lain. Dalam kehidupan sehari-hari dan bercerita, menunjukkan dibandingkan menceritakan membuat pesan menjadi lebih jelas dan berdampak. Misalnya saja, daripada sekedar mengatakan seseorang itu baik, menunjukkan kebaikannya melalui tindakan kecil akan meninggalkan kesan yang lebih kuat. Metafora bulan dan pecahan kaca menekankan betapa detail yang halus—seperti kilatan cahaya di tepi yang bergerigi—dapat membangkitkan gambaran dan emosi tertentu dengan lebih kuat daripada deskripsi abstrak. Ini menggarisbawahi prinsip dasar dalam seni, komunikasi, dan interaksi pribadi: keaslian dan detail sensorik memperkaya pemahaman. Mengenali keindahan atau kebenaran sering kali memerlukan melihat melampaui permukaan hingga ke detail rumit yang mengungkapkan esensi sebenarnya dari suatu situasi atau karakter. Kutipan ini mendorong kita untuk fokus pada bukti dan pengalaman yang secara langsung membangkitkan emosi, pemahaman, atau apresiasi, daripada hanya mengandalkan deskripsi verbal. Pendekatan seperti itu memupuk kejujuran, kejelasan, dan hubungan yang lebih dalam, baik dalam penceritaan, hubungan, atau pertumbuhan pribadi. Pada akhirnya, hal ini mengingatkan kita bahwa pemahaman sejati datang dari keterlibatan dengan hal-hal yang nyata dan dapat diamati, sehingga menciptakan narasi yang lebih jujur dan menarik tentang dunia di sekitar kita.