Bahkan dalam membuat benda, segera setelah Anda mulai merasa bahwa suatu bentuk kerajinan akan dibuat, Anda menyadari bahwa semuanya salah. Karena kerajinan sebenarnya hanyalah jimat. Itu adalah energi yang terbuang. Ini tentang objeknya, suatu ruang yang tidak ada hubungannya dengan manusia.

Bahkan dalam membuat benda, segera setelah Anda mulai merasa bahwa suatu bentuk kerajinan akan dibuat, Anda menyadari bahwa semuanya salah. Karena kerajinan sebenarnya hanyalah jimat. Itu adalah energi yang terbuang. Ini tentang objeknya, suatu ruang yang tidak ada hubungannya dengan manusia.


(Even in making objects, as soon as you start to get the feeling that some form of craft is coming into place, you realize that everything is wrong. Because craft is really just a fetish. It is wasted energy. It's about the object, some space which has nothing to do with the human.)

📖 Jeff Koons

🌍 Amerika  |  👨‍💼 Artis

(0 Ulasan)

Kutipan ini menggali filosofi penciptaan artistik dan esensi pengerjaan. Hal ini menantang penghormatan tradisional terhadap kerajinan sebagai tujuan akhir dalam membuat karya seni atau benda, dan menunjukkan bahwa penekanan berlebihan pada teknik dapat mengalihkan perhatian dari tujuan atau makna sebenarnya. Gagasan bahwa kerajinan dapat menjadi sebuah fetish menyiratkan bahwa terpaku pada kesempurnaan teknis atau estetika yang dangkal dapat menyebabkan pemahaman seni yang dangkal, mengabaikan semangat kemanusiaan yang lebih dalam atau konteks di balik penciptaan. Dengan mengakui bahwa kerajinan tangan adalah 'energi yang terbuang', kutipan tersebut menganjurkan keterlibatan yang lebih tulus dalam proses kreatif—berfokus pada ide, emosi, dan pengalaman manusia daripada hanya bentuk fisik atau kecakapan teknis. Hal ini mendorong para seniman dan pencipta untuk melihat melampaui estetika tingkat permukaan dan untuk mempertimbangkan ruang dan hubungan yang ada dalam karya mereka, mungkin menunjukkan bahwa makna suatu objek tidak hanya terletak pada pengerjaannya tetapi juga dalam hubungannya dengan keberadaan atau persepsi manusia. Perspektif ini mengundang evaluasi ulang mengenai apa yang dimaksud dengan seni sejati, mengutamakan spontanitas, keaslian, dan konseptual dibandingkan yang murni teknis, yang pada akhirnya menyatakan bahwa seni harus melampaui yang dangkal dan mencerminkan kebenaran kemanusiaan yang lebih dalam.

Page views
73
Pembaruan
Desember 25, 2025

Rate the Quote

Tambah Komentar & Ulasan

Ulasan Pengguna

Berdasarkan 0 ulasan
5 Bintang
0
4 Bintang
0
3 Bintang
0
2 Bintang
0
1 Bintang
0
Tambah Komentar & Ulasan
Kami tidak akan pernah membagikan email Anda dengan orang lain.