Setiap Natal harus dimulai dengan bunyi lonceng, dan ketika saya masih kecil, saya selalu melakukannya. Namun itu adalah lonceng kereta luncur, bukan lonceng gereja, karena kami tinggal di wilayah Cedar Rapids, Iowa, yang tidak terdapat gereja.

Setiap Natal harus dimulai dengan bunyi lonceng, dan ketika saya masih kecil, saya selalu melakukannya. Namun itu adalah lonceng kereta luncur, bukan lonceng gereja, karena kami tinggal di wilayah Cedar Rapids, Iowa, yang tidak terdapat gereja.


(Every Christmas should begin with the sound of bells, and when I was a child mine always did. But they were sleigh bells, not church bells, for we lived in a part of Cedar Rapids, Iowa, where there were no churches.)

πŸ“– Paul Engle

🌍 Amerika  |  πŸ‘¨β€πŸ’Ό Penyair

πŸŽ‚ October 12, 1908  β€“  ⚰️ March 22, 1991
(0 Ulasan)

Kutipan ini membangkitkan refleksi nostalgia tentang kenangan masa kecil dan bagaimana kenangan tersebut membentuk persepsi kita tentang tradisi liburan. Penekanan penulis pada bunyi lonceng untuk menandai awal Natal menyoroti pentingnya pengalaman indrawi dalam menciptakan suasana pesta. Perbedaan antara lonceng kereta luncur dan lonceng gereja sangatlah signifikan; lonceng kereta luncur membangkitkan pemandangan musim dingin luar ruangan pedesaan yang terkait erat dengan kehidupan lokal dan kenangan pribadi. Sebaliknya, lonceng gereja sering dikaitkan dengan kohesi komunitas dan perayaan spiritual. Tidak adanya gereja di lingkungan tempat tinggal penulis menggarisbawahi versi unik dari keceriaan liburan yang berakar pada lingkungan alam dan pedesaan daripada institusi keagamaan. Hal ini membangkitkan tema universal bahwa keajaiban Natal tidak hanya bergantung pada lingkungan keagamaan namun dapat dikembangkan melalui tradisi sederhana dan menyentuh hati yang terkait dengan keluarga dan lingkungan sekitar. Gambaran lonceng kereta luncur membawa pembaca ke lanskap musim dingin, memperkuat perasaan hangat, nostalgia, dan kegembiraan komunal yang melampaui praktik keagamaan tertentu. Hal ini mengingatkan kita bahwa esensi emosional dari liburan sering kali berasal dari ritual, suara, dan kenangan bersama yang menghubungkan kita dengan masa lalu dan satu sama lain. Secara keseluruhan, kutipan tersebut merayakan keragaman pengalaman liburan dan menghormati makna pribadi di balik perayaan tradisional, menekankan bahwa semangat Natal dapat hidup dengan jelas dalam momen sehari-hari dan sejarah pribadi.

Page views
36
Pembaruan
Agustus 14, 2025

Rate the Quote

Tambah Komentar & Ulasan

Ulasan Pengguna

Berdasarkan 0 ulasan
5 Bintang
0
4 Bintang
0
3 Bintang
0
2 Bintang
0
1 Bintang
0
Tambah Komentar & Ulasan
Kami tidak akan pernah membagikan email Anda dengan orang lain.