Saya tidak ingin anak-anak berpikir bahwa untuk menjadi bahagia, mereka harus menjadi terkenal atau kaya atau tinggal di kota besar.
(I didn't want kids to think that to be happy, they had to be famous or rich or live in the big city.)
Kutipan ini menantang narasi masyarakat luas yang menyamakan kebahagiaan dengan pencapaian eksternal seperti ketenaran, kekayaan, atau gaya hidup perkotaan. Di dunia yang dibombardir dengan media sosial yang memamerkan kehidupan selebriti, kemewahan, dan glamor metropolitan, banyak anak muda yang tumbuh dengan menginternalisasikan gagasan bahwa penanda eksternal ini merupakan prasyarat untuk kehidupan yang memuaskan. Namun, kebahagiaan sangat subjektif dan sering kali berakar pada pengalaman yang sederhana dan dapat diakses—hubungan yang bermakna, pertumbuhan pribadi, kreativitas, dan hubungan dengan komunitas atau alam, dan lain-lain. Dengan mengungkapkan keinginan untuk mengalihkan aspirasi anak-anak dari penanda konvensional, kutipan tersebut mendorong perspektif yang lebih luas tentang apa artinya menjalani kehidupan yang baik dan menyenangkan. Hal ini menggarisbawahi pentingnya memupuk nilai-nilai intrinsik dibandingkan validasi eksternal. Pendekatan ini meningkatkan kesejahteraan mental dengan mengurangi tekanan yang berasal dari perbandingan dan materialisme. Hal ini juga mengundang masyarakat untuk merenungkan bagaimana budaya membentuk impian kita dan apakah mimpi tersebut benar-benar selaras dengan kepuasan individu. Pada akhirnya, pesan ini berfungsi sebagai pengingat bahwa pemenuhan datang dari keaslian dan kehadiran, bukan mengejar cita-cita yang ditentukan oleh standar budaya. Organisasi ini menganjurkan pemberdayaan generasi muda untuk mendefinisikan kebahagiaan bagi diri mereka sendiri, yang berpotensi mengarah pada masyarakat yang lebih berbelas kasih, seimbang, dan membumi.