Aku tahu siapa ayahku, aku sudah bertemu dengannya beberapa kali, tapi aku bahkan tidak memanggilnya ayah. Aku tahu kedengarannya mengerikan, tapi sejujurnya aku bahkan tidak melihatnya sebagai bagian dari keluargaku. Jika Anda menginginkan kebenaran, itu tidak mengganggu saya karena saya tidak tahu bedanya. Aku hanya tahu bahwa aku dan ibuku, itu adalah keluargaku.
(I know who my dad is, I've met him a few times, but I don't even call him dad. I know it sounds horrible, but I don't even see him as part of my family, to be honest. If you want the truth, it doesn't bother me because I don't know any different. I just know that me and my mum, that was my family.)
Kutipan ini dengan tajam mengartikulasikan perasaan keterasingan dan redefinisi ikatan kekeluargaan yang dialami banyak orang dalam hidup mereka. Pembicara secara terbuka mengakui terputusnya hubungan dengan ayah kandung mereka namun melakukannya tanpa rasa pahit yang jelas. Sebaliknya, ada penerimaan yang berbeda terhadap kenyataan ini, yang menggarisbawahi bahwa keluarga, dalam arti terkaya, tidak ditentukan secara ketat oleh genetika atau ekspektasi masyarakat, namun oleh hubungan sejati yang kita pelihara. Penekanan pembicara pada ikatan mereka dengan ibu mereka menyoroti pentingnya hubungan yang dipilih yang memberikan dukungan dan identitas sejati. Hal ini mengundang refleksi tentang bagaimana struktur keluarga bisa menjadi kompleks dan non-tradisional, mengingatkan kita bahwa kedekatan emosional dan pengalaman bersama seringkali lebih penting daripada ikatan darah sederhana.
Ketahanan emosional dalam kutipan ini patut diperhatikan—rasa memiliki pembicara berasal dari hubungan mereka dengan ibu mereka, yang menjadikan keluarga sebagai sumber kenyamanan dan stabilitas di tengah ambiguitas. Hal ini menantang narasi konvensional bahwa ayah harus memegang tempat sentral dalam identitas keluarga dan sebaliknya merayakan kemungkinan menciptakan keluarga bermakna yang ditentukan oleh kepercayaan, cinta, dan sejarah bersama. Selain itu, kutipan tersebut menyentuh potensi stigma seputar dinamika keluarga non-tradisional; dengan mengungkapkan perasaan ini secara terus terang, pembicara memberikan suara kepada orang lain yang mungkin merasa terisolasi atau dihakimi. Secara keseluruhan, kutipan tersebut merupakan bukti sifat keluarga yang berkembang dan penerimaan pribadi yang dapat muncul dari menerima kisah unik seseorang.
---Sally Pearson---