Saya benci orang yang memelihara anjing. Mereka adalah pengecut yang tidak punya nyali untuk menggigit orang lain.

Saya benci orang yang memelihara anjing. Mereka adalah pengecut yang tidak punya nyali untuk menggigit orang lain.


(I loathe people who keep dogs. They are cowards who haven't got the guts to bite people themselves.)

📖 August Strindberg

🌍 Swedia

🎂 January 22, 1849  –  ⚰️ May 14, 1912
(0 Ulasan)

Pernyataan provokatif ini mencerminkan penghinaan yang mendalam terhadap individu yang memilih memelihara anjing sebagai sarana untuk melakukan kontrol atau menegaskan dominasi secara tidak langsung. Hal ini menunjukkan bahwa pemilik hewan peliharaan memiliki pandangan yang kurang memiliki keberanian pribadi, dan lebih memilih untuk memanfaatkan hewan daripada menghadapi masalah atau individu secara langsung. Intinya, kutipan tersebut menyentuh tema keberanian, kejujuran, dan keaslian dalam interaksi manusia. Metafora tersebut menyiratkan bahwa ujian karakter yang sebenarnya bukanlah dalam membuat perisai atau proxy, seperti hewan peliharaan, namun dalam menghadapi tantangan dan konflik secara langsung. Meskipun pernyataan tersebut sangat kasar dan mungkin tidak mencerminkan kenyataan secara universal, pernyataan tersebut mendorong pertimbangan terhadap motif dan perilaku manusia. Apakah beberapa orang memang kurang berani jika hewan mereka tidak bertindak sebagai penggantinya? Atau apakah ini sebuah penyederhanaan yang berlebihan—sebuah ekspresi penghinaan terhadap apa yang dianggap sebagai pengecut? Selain itu, hal ini menimbulkan pertanyaan tentang persepsi masyarakat mengenai kekuatan dan kerentanan. Masyarakat sering kali mengagungkan keberanian, terkadang dengan mengorbankan belas kasih atau pengertian. Ironisnya, penggunaan anjing, yang secara tradisional dipandang sebagai sahabat setia, dalam konteks ini mencerminkan kesenjangan antara peran mereka sebagai pelindung dan kelemahan yang tersirat dari pemiliknya. Kutipan ini menantang pembaca untuk memeriksa persepsi mereka sendiri tentang kekuatan, keaslian, dan cara manusia memilih untuk menampilkan diri atau bersembunyi di balik proxy. Pada akhirnya, buku ini memberikan komentar yang gamblang tentang sifat manusia, kejujuran, dan pentingnya menghadapi kesulitan hidup, bukannya menghindarinya.

Page views
43
Pembaruan
Juli 04, 2025

Rate the Quote

Tambah Komentar & Ulasan

Ulasan Pengguna

Berdasarkan 0 ulasan
5 Bintang
0
4 Bintang
0
3 Bintang
0
2 Bintang
0
1 Bintang
0
Tambah Komentar & Ulasan
Kami tidak akan pernah membagikan email Anda dengan orang lain.