Saya berhenti menulis fiksi saat saya mulai menulis lagu, dan saya merindukannya.
(I stopped writing fiction the moment I started writing songs, and I miss it.)
Kutipan dari Jake Shears ini menangkap kebenaran mendalam tentang ekspresi kreatif dan emosi yang terkait dengan upaya artistik. Ketika kita berpindah dari satu bentuk karya seni ke bentuk seni lainnya, terutama dari bercerita melalui fiksi hingga mengarang lagu, sering kali muncul rasa kehilangan, nostalgia, atau kerinduan terhadap karya aslinya. Menulis fiksi memungkinkan pembangunan dunia yang mendalam, pengembangan karakter, dan eksplorasi tema kompleks secara mendetail. Ini mewujudkan kekuatan bahasa untuk menciptakan seluruh alam semesta dari imajinasi, membutuhkan kesabaran, disiplin, dan kecintaan pada kedalaman narasi.
Transisi ke penulisan lagu, meski masih berupa penceritaan, sering kali menekankan emosi, melodi, dan singkatnya. Lagu cenderung berfokus pada penyampaian perasaan secara ringkas dan berirama, yang dapat membatasi jenis cerita yang mungkin diceritakan dibandingkan dengan kemungkinan fiksi yang luas. Kutipan tersebut menunjukkan bahwa begitu Shears membenamkan dirinya dalam penulisan lagu, dia secara naluriah meninggalkan seni bercerita yang lebih panjang dan rumit melalui fiksi tertulis. Namun, ada kerinduan yang melekat - meskipun ada kesuksesan atau kepuasan dalam penulisan lagu, penulisnya masih menyimpan keterikatan nostalgia pada proses penceritaan fiksi yang lebih kaya dan rumit.
Sentimen ini selaras dengan banyak kreatif yang mengalami sifat pahit manis dalam mengembangkan fokus artistik mereka. Kreativitas dapat dikotak-kotakkan dan dibentuk kembali, namun hati sering kali tetap terhubung dengan hasrat aslinya. Pengakuan bahwa seseorang merindukan bentuk seni sebelumnya menggarisbawahi hubungan emosional otentik yang terlibat dalam penciptaan, menekankan bahwa seni bukan hanya sebuah profesi tetapi bagian penting dari identitas. Ini adalah pengingat akan hubungan kompleks antara berbagai upaya artistik, dan bagaimana masing-masing upaya meninggalkan jejak di jiwa kita, terkadang membuat kita merindukan karya yang 'hilang' bahkan saat kita menghargai apa yang telah kita peroleh.