Jika tidak sampai ke orang miskin terakhir, maka konstitusi Anda salah.

Jika tidak sampai ke orang miskin terakhir, maka konstitusi Anda salah.


(If it doesn't reach the last poor man, your constitution is wrong.)

πŸ“– Kamal Haasan

🌍 India  |  πŸ‘¨β€πŸ’Ό Aktor

πŸŽ‚ November 7, 1954
(0 Ulasan)

Kutipan ini menekankan pentingnya inklusivitas dan keadilan sosial dalam kerangka suatu negara. Hal ini menunjukkan bahwa konstitusi atau sistem pemerintahan yang benar dan efektif harus memprioritaskan upaya menjangkau dan mengangkat kelompok yang paling terpinggirkan dan kurang beruntung dalam masyarakat. Sebuah konstitusi atau kebijakan yang gagal memenuhi kebutuhan masyarakat termiskin pada dasarnya memiliki kelemahan, karena tidak mencerminkan prinsip-prinsip keadilan dan kesetaraan yang merupakan landasan bagi masyarakat yang adil.

Gagasan di balik pernyataan ini sangat mendalam karena mengalihkan fokus kita dari aspek tata kelola yang dangkal atau birokratis ke dampaknya yang nyata terhadap kehidupan masyarakat. Hal ini menantang para pembuat kebijakan, pemimpin, dan masyarakat untuk mempertimbangkan apakah undang-undang dan kebijakan yang dibuat benar-benar bermanfaat bagi mereka yang paling membutuhkan. Hal ini selaras dengan konsep 'tidak meninggalkan siapa pun', sebuah prinsip yang diperjuangkan dalam agenda pembangunan global, yang mencerminkan keyakinan bahwa kekuatan suatu negara diukur dari seberapa baik negara tersebut memberikan dukungan kepada negara-negara yang paling rentan.

Secara praktis, kutipan ini mendesak masyarakat untuk menerapkan langkah-langkah seperti jaring pengaman sosial yang efektif, distribusi sumber daya yang adil, dan layanan kesehatan dan pendidikan yang dapat diakses untuk menjamin kesejahteraan setiap individu, terutama mereka yang sering terabaikan. Hal ini memerlukan introspeksi untuk mengevaluasi apakah struktur yang ada saat ini cukup inklusif atau secara inheren mengecualikan kelompok marginal.

Lebih jauh lagi, perspektif ini menumbuhkan empati, mendorong kita untuk melihat lebih jauh dari ukuran pertumbuhan yang dangkal, seperti tingkat perekonomian atau stabilitas politik, dan fokus pada perbaikan nyata dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Pada akhirnya, pendekatan ini menganjurkan pendekatan yang penuh kasih sayang terhadap pemerintahan, sebuah pengingat bahwa kedaulatan dan legalitas yang sejati hanya akan bermakna jika hal tersebut dapat memberikan manfaat nyata bagi semua orang, termasuk kelompok yang paling tidak diuntungkan.

Kutipan ini tetap relevan di berbagai budaya dan periode karena kesenjangan dan ketidaksetaraan terus terjadi di seluruh dunia, sehingga menantang integritas kontrak sosial dan janji konstitusi kita. Meninjau kembali prinsip ini memastikan bahwa keadilan tetap menjadi inti pembangunan masyarakat.

Page views
136
Pembaruan
Desember 25, 2025

Rate the Quote

Tambah Komentar & Ulasan

Ulasan Pengguna

Berdasarkan 0 ulasan
5 Bintang
0
4 Bintang
0
3 Bintang
0
2 Bintang
0
1 Bintang
0
Tambah Komentar & Ulasan
Kami tidak akan pernah membagikan email Anda dengan orang lain.