Jika engkau bekerja pada apa yang ada di hadapanmu, mengikuti alasan yang benar dengan sungguh-sungguh, penuh semangat, dan tenang tanpa membiarkan apa pun mengalihkan perhatianmu, tetapi menjaga bagian ilahimu tetap murni seolah-olah kamu harus terikat untuk mengembalikannya segera jika kamu berpegang pada hal ini tanpa mengharapkan apa pun tanpa takut apa pun selain puas dengan aktivitasmu saat ini sesuai dengan Alam dan dengan kebenaran heroik dalam setiap kata dan suara yang kamu ucapkan, kamu akan hidup bahagia. Dan tidak ada manusia yang mampu mencegah hal ini.
(If thou workest at that which is before thee following right reason seriously vigorously calmly without allowing anything else to distract thee but keeping thy divine part pure as if thou shouldst be bound to give it back immediately if thou holdest to this expecting nothing fearing nothing but satisfied with thy present activity according to Nature and with heroic truth in every word and sound which thou utterest thou wilt live happy. And there is no man who is able to prevent this.)
Kutipan dari Marcus Aurelius ini menawarkan perspektif mendalam tentang bagaimana menjalani kehidupan yang memuaskan dan berbudi luhur. Pada intinya, ini menekankan pentingnya memfokuskan upaya seseorang pada tugas yang ada, mendekatinya dengan alasan, intensitas, dan ketenangan. Dengan menganjurkan untuk bekerja dengan rajin tanpa gangguan, Aurelius menggarisbawahi nilai perhatian dan kehadiran—terlibat sepenuhnya pada saat ini. Gagasan untuk menjaga kemurnian bagian ketuhanan seseorang menyiratkan pemeliharaan integritas batin dan kejelasan moral, seolah-olah segera menukarnya kembali untuk memenuhi rasa kewajiban atau keselarasan dengan alam. Pola pikir ini memerlukan komitmen yang teguh terhadap kebajikan, bukan untuk pengakuan eksternal, namun dari dalam, tanpa mengharapkan imbalan apa pun. Penyebutan rasa puas dengan aktivitas saat ini yang selaras dengan alam mendorong penerimaan dan kepuasan terhadap keadaan saat ini, sebuah prinsip inti Stoa yang mendorong ketenangan pikiran di tengah fluktuasi kehidupan yang tak terhindarkan. Lebih jauh lagi, upaya mengejar 'kebenaran heroik' dalam setiap kata dan suara mengisyaratkan hidup dengan kejujuran, keaslian, dan integritas dalam ucapan dan tindakan. Pesan utamanya adalah dengan berpegang pada prinsip-prinsip ini, kebahagiaan menjadi sebuah keadaan yang dapat dicapai, tidak dapat dikalahkan oleh keadaan eksternal atau tindakan orang lain. Aurelius mengingatkan kita bahwa disiplin dan fokus batin ini berada dalam kekuatan kita, dan tidak ada kekuatan eksternal yang benar-benar dapat menghalangi kita menjalani kehidupan yang selaras dengan kebajikan dan akal sehat.