Secara umum, saya ingin menjadi semacam pengibar bendera, penggantung bendera, pemukul gendang, sebut saja, untuk puisi.
(In a general way, I want to be a kind of flag - waver, bunting hanger - up, drum - beater, you name it, for poetry.)
Kutipan ini dengan jelas menangkap keinginan kuat pembicara untuk menjadi pendukung dan pembela puisi yang penuh semangat. Gambaran mengibarkan bendera, mengibarkan bendera, dan menabuh genderang membangkitkan rasa perayaan dan promosi aktif. Hal ini menunjukkan bahwa puisi, yang sering dianggap sebagai bentuk seni yang terpisah dari kehidupan sehari-hari, layak mendapat perhatian dan antusiasme. Dengan mengibaratkan bendera atau genderang, pembicara menekankan pentingnya visibilitas, suara, dan semangat kolektif dalam menumbuhkan apresiasi terhadap puisi. Metafora tersebut juga mengisyaratkan kesediaan untuk bersuara lantang, bangga, dan energik dalam mendukung ekspresi puisi meskipun ada tantangan atau ketidakpedulian yang mungkin dihadapi. Deskripsi yang penuh warna dan hidup membangkitkan rasa kebersamaan, kebanggaan, dan dukungan orang lain terhadap tujuan puisi. Hal ini menggarisbawahi peran individu—seniman, pecinta, dan peminat—untuk membawa obor dan memastikan bahwa puisi tetap hidup, dirayakan, dan diintegrasikan ke dalam kesadaran publik. Secara keseluruhan, kutipan tersebut mendorong keterlibatan dan kegembiraan yang proaktif, mengingatkan kita bahwa seni akan tumbuh subur jika didukung dengan penuh semangat dan nyata, seperti spanduk yang melambai tertiup angin, mengundang orang lain untuk ikut merayakannya.