Sulit jika Anda mulai percaya bahwa Anda seharusnya benar-benar menjadi ideal fantasi yang sempurna, sehingga orang-orang mulai percaya karena semua perubahan tersebut. Anda bisa menyelami dunia fantasi itu dan bermain dengannya, tapi saat Anda pergi, itu bukan Anda.

Sulit jika Anda mulai percaya bahwa Anda seharusnya benar-benar menjadi ideal fantasi yang sempurna, sehingga orang-orang mulai percaya karena semua perubahan tersebut. Anda bisa menyelami dunia fantasi itu dan bermain dengannya, tapi saat Anda pergi, itu bukan Anda.


(It's hard if you start believing that you should be really that perfect fantasy ideal, that people start believing because of all of the retouching. You can delve into that fantasy world and play with it, but when you walk away, that's not you.)

📖 Gemma Ward


(0 Ulasan)

Kutipan ini membahas hubungan kompleks antara persepsi diri dan standar kesempurnaan masyarakat, khususnya di era media digital dan pengeditan foto. Hal ini menyoroti bahayanya menyerah pada daya tarik citra ideal yang dikembangkan melalui retouching, yang dapat merusak pemahaman kita tentang keindahan sejati dan harga diri. Meskipun kita tergoda untuk menikmati dunia fantasi ini – mengubah gambar, menyusun persona online, atau berjuang untuk standar yang tidak dapat dicapai – kenyataannya adalah bahwa cita-cita yang dibuat-buat ini adalah konstruksi yang salah. Ketika kita melepaskan diri dari ilusi ini, kita diingatkan akan diri kita yang sebenarnya, yang tidak sempurna namun asli.

Kutipan tersebut mengundang refleksi tentang pentingnya keaslian dan penerimaan diri. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun menerima fantasi itu menyenangkan dan terkadang memberdayakan, mengandalkan fantasi sebagai tolok ukur bagi diri kita sendiri dapat berdampak buruk pada kesehatan mental dan harga diri. Hal ini mendorong individu untuk menyadari nilai mereka melebihi penampilan dangkal dan harapan masyarakat. Pengakuan bahwa diri kita yang 'asli' tidak ditentukan oleh gambar yang disempurnakan secara artifisial adalah sebuah langkah untuk menerima keindahan dan ketidaksempurnaan alami kita.

Selain itu, pesan ini sangat relevan dalam budaya yang terobsesi dengan citra, validasi sosial, dan upaya mengejar kesempurnaan. Hal ini memerlukan kewaspadaan terhadap pesan-pesan yang disampaikan melalui media dan menggarisbawahi pentingnya menumbuhkan sikap welas asih terhadap diri sendiri dan orang lain. Kepercayaan diri yang sejati berasal dari penerimaan diri kita yang sebenarnya, bukan dari penyesuaian terhadap cita-cita yang dihasilkan melalui penyuntingan atau tekanan masyarakat.

Secara keseluruhan, kutipan ini berfungsi sebagai pengingat untuk tetap membumi dan autentik di tengah dunia ilusi, menegaskan bahwa diri kita berharga hanya karena asli, bukan karena memenuhi standar kesempurnaan yang dibangun secara digital.

Page views
115
Pembaruan
Desember 25, 2025

Rate the Quote

Tambah Komentar & Ulasan

Ulasan Pengguna

Berdasarkan 0 ulasan
5 Bintang
0
4 Bintang
0
3 Bintang
0
2 Bintang
0
1 Bintang
0
Tambah Komentar & Ulasan
Kami tidak akan pernah membagikan email Anda dengan orang lain.