Tidak apa-apa bagiku menjadi gay, tapi Tuhan tidak menjadikanku seperti itu.
(It's okay for me to be gay, but God didn't make me that way.)
Kutipan ini mengungkapkan pergulatan antara identitas pribadi dan keyakinan agama, menyoroti ketegangan yang dirasakan banyak individu ketika kualitas bawaan mereka bertentangan dengan ajaran yang telah mereka anut sejak kecil. Hal ini menggarisbawahi pentingnya penerimaan diri dan perlunya menyelaraskan iman dengan ekspresi diri yang otentik. Menyadari nilai yang melekat pada diri sendiri, terlepas dari pendapat atau doktrin eksternal, dapat memberdayakan sekaligus menantang. Refleksi semacam ini mengajak kita untuk mempertimbangkan bagaimana narasi masyarakat dan agama membentuk pemahaman kita tentang identitas dan mendorong empati terhadap mereka yang menghadapi situasi yang kompleks ini.