Aspirasi yang dipromosikan oleh kapitalisme sebagai sesuatu yang indah dan positif adalah hal yang berbahaya. Semua itu ada di kamar tidur orang-orang miskin dan di desa-desa di Dunia Ketiga, dan itu seperti wortel kejam yang dilempar ke depan hidung orang-orang. Itu adalah rayuan, mimpi yang tidak mungkin tercapai.
(It's the aspirations that capitalism is promoting as beautiful, positive attributes that are dangerous. All that is in the bedrooms of the poor and in the villages of the Third World, and it's like a cruel carrot that's being waved in front of people's noses. It's a seduction, an unattainable dream.)
Kutipan ini secara kritis mengkaji daya tarik cita-cita kapitalisme yang sering kali menipu. Hal ini menyoroti bagaimana upaya mengejar kesuksesan dan kebahagiaan materi, yang sering diagung-agungkan di masyarakat makmur, dapat berdampak buruk pada masyarakat di wilayah miskin. Metafora “wortel yang kejam” menekankan sifat manipulatif dari janji-janji tersebut, yang masih berada di luar jangkauan banyak orang, sehingga menumbuhkan kekecewaan dan melanggengkan siklus keinginan dan ketidaksetaraan. Hal ini mendorong refleksi terhadap struktur masyarakat yang menyebarkan ilusi tersebut, dan mendesak dilakukannya evaluasi ulang terhadap apa yang sebenarnya merupakan pemenuhan dan kepuasan.