Perhiasan dan pin telah dipakai sepanjang sejarah sebagai simbol kekuasaan, penyampaian pesan. Menariknya, sebagian besar perhiasan ini dikenakan oleh laki-laki di berbagai masa, dan jelas bahwa mahkota adalah bagian dari sinyal yang dikirimkan sepanjang sejarah oleh orang-orang berpangkat tinggi.
(Jewelry and pins have been worn throughout history as symbols of power, sending messages. Interestingly enough, it was mostly men who wore the jewelry in various times, and obviously crowns were part of signals that were being sent throughout history by people of rank.)
Kutipan ini menyoroti pentingnya perhiasan dan perhiasan lebih dari sekadar dekorasi, menekankannya sebagai simbol status, otoritas, dan identitas yang kuat sepanjang sejarah. Sangat menarik untuk mempertimbangkan bagaimana benda-benda seperti perhiasan dan mahkota berfungsi sebagai alat komunikasi non-verbal, yang sering kali menyampaikan pesan tentang pangkat dan kekuasaan dalam masyarakat di seluruh dunia. Pengamatan bahwa laki-laki merupakan pemakai barang-barang simbolik tersebut menantang asumsi-asumsi masa kini yang menganggap perhiasan sering dikaitkan dengan perempuan. Hal ini menekankan norma dan peran masyarakat yang berbeda dalam periode sejarah yang berbeda, di mana laki-laki yang memamerkan perhiasan dan mahkota secara nyata menegaskan kekuasaan dan posisi masyarakat mereka.
Gagasan tentang budaya material yang berfungsi sebagai bahasa membuka pemahaman yang lebih dalam tentang interaksi kompleks antara perhiasan pribadi dan hierarki sosial. Mahkota, permata, dan pin bukan hanya sekedar hiasan namun juga berfungsi sebagai sinyal yang memperkuat struktur sosial dan kesenjangan. "Pesan" halus yang disampaikan oleh perhiasan ini menunjukkan cara kekuasaan diberlakukan dan dilaksanakan di depan umum, sehingga memungkinkan para penguasa dan bangsawan untuk mengkonsolidasikan pengaruh mereka melalui representasi yang terlihat.
Lebih jauh lagi, refleksi ini mendorong pertimbangan yang lebih luas tentang bagaimana simbol berkembang namun tetap penting dalam mengekspresikan identitas dan otoritas. Saat ini, meski bentuknya mungkin telah berubah, fungsi perhiasan dan perhiasan untuk mengirimkan sinyal sosial terus berlanjut dalam berbagai cara. Hal ini mendorong apresiasi terhadap konteks budaya dan sejarah di balik artefak-artefak tersebut, dan mendorong kita untuk membaca bahasa simbolik yang terjalin dalam budaya material sejarah.